"Pergumulan tidak akan pernah sirna, akan tetapi HARAPAN selalu menguatkan manusia untuk menata hidup yang lebih baik."

Terimakasih atas kunjungan anda.

Halaman

~ "Uniform 2"

Titi Mangape

Mungkin ada benarnya jika dikatakan bahwa dengan menggunakan pakaian seragam (corak, bentuk dan susunan model dan bahan yang sama), akan nampak kebersamaan dalam satu persekutuan dari kota sampai ke pelosok. Persoalan ialah apakah kebersamaan hanya bisa terlihat dari pakaian seragam semata? Sehingga jikalau ada yang berbeda mereka dianggap “berseberangan” atau bahkan menjadi “musuh”bagi kita? Apakah tolok ukur iman seseorang dapat dinilai dari pakaian seragam? Apakah pakaian seragam sudah menjadi parameter iman bagi orang lain?

Bersama dengan seorang sahabat, kami pernah menuai protes keras dari berbagai kalangan, tidak terkecuali para “pengambil kebijakan” hanya karena perbedaan persepsi terhadap pakaian seragam dan ketidaksetujuan kami dengan pengadaan pakaian seragam yang beraneka macam itu.

Bagi saya secara pribadi, perbedaan semestinya dianggap sebagai hasil dari keragaman dan kepelbagaian kita sebagai individu yang pasti selalu unik. Baik dari segi penampilan, dalam berpendapat, dalam beriskap dan lain-lain. Sebab tidak seorangpun di dunia ini (termasuk saudara kembar) yang sama. Justru dalam keragaman dan keunikan masing-masing individu itulah, akan nampak kekuatan “besar” jikalau dapat ditata dengan baik. Tanpa pakaian seragam sekalipun.

Jika kita pahami dengan sungguh bahwa persekutuan umat adalah milik kepunyaanNya dan kita yang lemah dan berdosa ini hanyalah alatNya, maka pakaian seragam bukanlah prioritas utama dalam mengemban tanggung jawab tri panggilan gereja yakni bersaksi, bersekutu dan melayani.

~ "Uniform 1"

Titi Mangape


Kali-kali aja ada yang baca judul ini langsung berpikiran, sejak kapan saya pintar memakai bahasa sono hehehehe. Tapi yang mau saya ungkapkan di sini memang soal “seragam” yang lebih mengarah ke busana/pakaian.

Dulu waktu masih kecil, senang benar melihat orang berpakaian seragam. Bangga rasanya memakai pakaian itu. Dari pakaian putih-merah, putih-biru n putih abu-abu. Saat ibu saya memakai pakaian dinasnya, baik di kantor maupun sebagai anggota PKK dan Dasa Wisma(waktu itu), selalu ada kebanggan tersendiri dalam diri saya. Menarik, sebab kita dapat dengan mudah menebak orang-orang itu bekerja di instansi mana dengan melihat busana yang mereka kenakan. Gampang menerka dari kelompok/kampung mana jika ada hajatan besar dilakukan di ibukota kabupaten seperti tujuhbelasan atau ulang tahun kabupaten. Seragam digunakan sebatas “identitas” instantsi atau kelompok. Supaya lebih mudah dikenal. (Apalagi kalau "hilang" di tengah keramaian, lebih mudah menemukannnya). Demikian pula jika tim seperti tim penggerak PKK kabupaten “turba” alias turun ke bawah- ke pelosok-pelosok, akan lebih mudah mengenalnya dari seragam mereka. Tetapi itu dulu.

Sekarang, setelah kecenderungan itu juga merambah masuk ke dalam gereja, kebanggan masa kecil saya menjadi sirnah, seiring dengan bergesernya paradigma masyarakat (tidak terkecuali masyarakat gereja) terhadap makna pakaian seragam itu. Jika dahulu ada perasaan bangga melihat orang-orang memakai pakaian seragam, saat ini, hati justru menjadi miris. Seragam yang semula dimaksudkan sebagai bentuk kebersamaan, atau “identitas” , kini justru semakin menampakkan kesenjangan antar sesama anggota persekutuan. Bagi yang “berpunya” tentu tidak masalah membeli seragam berpasang-pasang. Akan tetapi bagi yang “tidak berpunya “ atau “pas-pasan”, hal ini pastilah memberatkan, bahkan bisa menjadi batu sandungan. Sayangnya kelompok kedua inilah yang lebih banyak terlibat.

Akibatnya, banyak orang yang tidak lagi mau tampil memuji Tuhan melalui Paduan Suara atau Vokal Group. Alasannya, “Kami tidak punya baju seragam”
Dalam suatu percakapan dengan seorang ibu di suatu ibadah natal, ia berkata, “Saya tidak mau ke depan membawa persembahan saya karena warna pakaian seragam yang saya pakai berbeda dengan warna pakaian seragama yang dipakai saat ini.”
Di waktu lain ketika saya bertemu dengan beberapa ibu dan bertanya mengapa mereka tidak hadir dalam ibadah, jawab mereka:“Karena kami tidak punya pakaian seragam.” Saat saya bertanya: "Mengapa tidak dibuat?" Jawab mereka, "Kami tidak punya uang (lebih)."

Tidak masuk akal memang. Masakan hanya karena pakaian seragam, seseorang lalu tidak ikut beribadah, tidak mau memuji Tuhan dan tidak mau membawa persembahannya ke depan (altar)? Tetapi inilah realitas yang terjadi.
Saya lalu berpikir, jangan-jangan karena pakaian seragam, posisi “Yang Disembah” dalam hidup persekutuan ini, telah tergeser dan terpinggirkan.
Jangan-jangan karena pakaian seragam, kita sudah menjadi lebih besar dari Dia.

~Gado-gado

Titi Yuliaty Mangape


Makanan khas dari daerah Jawa ini memang selalu menggugah selerah. Apalagi klo cabe rawitnya ditambah dikit, wuihhh, enuak benar, sekalipun zzhhhh…… n keringat bercucuran saking kepedasan. Paling tidak itu yang aku rasakan. Seorang ibu di jemaat tempat aku melayani saat ini, bahkan mendapat julukan “tante gado-gado”, saking demennya pada makanan yang satu ini.
Terlepas dari itu semua, ketika di hadapanku tersaji sepiring gado-gado , pikiranku dipenuhi dengan berbagai pengandaian. Andai semua umat Tuhan memahami betapa kehadirannya laksana sepiring “gado-gado” yang lezat tatkala orang “menyantapnya”, ah….. betapa indah dan menyenangkannya.

Dengan berbagai corak dan karakter. Dengan berbagai warna dan warni. Ada yang seperti kangkung-hijau segar, ttp cepat layu. Ada yang seperti kacang panjang yang mungkin panjang-panjang pula akalnya. Ada yang seperti touge, pendek ttp akarnya panjang menghunjam ke tanah. Ada yang seperti kerupuk saat baru selesai digoreng renyahnya bukan main, akan ttp tidak lama kemudian menjadi melempem jikalau dibiarkan di tempat terbuka hanya karena hembusan angin sepoi-sepoi. Ada yg seperti cabe rawit, kecil-kecil tetapi minta ampun pedasnya. Namun ada pula yang seperti telur , semakin lama direbus, justru semakin keras; yang semula cair, setelah melalui proses perebusan menjadi padat. banyak lagi yang lain.

Satu hal yang pasti, setelah semuanya “diramu” dan “disiram saus kacang”, luarrrr biasa nikmatnya. Perbedaan yang ada tidak lagi menjadi penghambat tetapi justru semakin menambah nikmatnya hidup persekutuan. Sebab kata orang dan juga kata saya, “berbeda itu indah”. Justru ketika perbedaan-perbedaan itu mampu dimanage dengan baik dan tepat, maka akan nampaklah kekuatan dan keindahannya.

~ Elegi Manis


Kota Pakarena, 24 Agustus 2007


                              Untuk yang terkasih
               "Bunda Ny. Arita Tomasoa-Lande"


Alangkah indahnya ombak di laut lepas.
Mengalun lembut menampar bibir pantai Losari
Beriang mengusung buih-buih putih.
Menyampaikan salam kepadamu kekasih

Burung-burung camar, terbang meliuk dengan indahnya,
memamerkan sayap-sayap terbuka, bagaikan rangkaian kipas,
menukik, bercumbu dengan buih-buih putih
kepingan kayu cendana, riang bercanda dengan birunya air samudara

Oh, simak senandung mereka
Maknai jerit lembut suara mereka
Buka pintu hatimu sesaat Bunda,
Menyambut salam mereka

Himbau sayup suara terdengar
Di pagi sepi ini, bersama terbitnya sang bagaskara
Kami menyampaikan elegi manis
Tersalut dalam bahagia
Bagimu Bunda



                   Selamat Hari Ulang Tahun ke-84
                            Tuhan bersamamu selalu"

Dari:
Ny. Sarah Karangan Sampetoding







~ Sepenggal Asa Kugenggam dalam Hidupku

Bunda Yasmin
 
         Hari ini, aku ada janji menjenguk keluarga yang sedang sakit. Aku berupaya selesai menata diri sebelum jemputan tiba. Tepat waktu, sebuah Honda New Accord-dark blue metalik berhenti sejenak di halaman depan rumahku. Tak lama kemudian kami segera meluncur. Senang mempunyai teman yang menghargai waktu dan tidak membiarkan perasaan orang lain dihinggapi rasa bosan menanti. Ya itulah hidup
        Kami lama berbincang-bindang di teras Rumah sakit, sambil berusaha menghibur hati keluarga yang ada di sana. Di teras paviliun tempat tempat kami duduk, banyak kembang-kembang soka tumbuh dengan subur. Indahnya kembang soka ini, bunganya merah menyala, tersembul dari antara daun-daun hijau tua nan mengkilat tertimpa cahaya sang surya. Aku tercenung beberapa saat menikmati keindahan bunga-bunga ini. Sejenak anganku melayang pada suamiku yang telah lama kembali ke pangkuan Tuhan. Ia sangat menyukai kembang-kembang soka, apalagi jenis hibrida seperti di taman itu. Warnanyapun sangat disenanginya, baik itu warna kuning emas, salem dan putih. Kala rutinitas dan pekerjaanya di kantor telah selesai dan ia kembali ke rumah, pertama-tama yang disapanya adalah bunga-bunga itu.  Tetapi, ah.... itu telah lama berlalu.
       Tanpa terasa, air mataku jatuh membasahi pipiku yang mulai keriput seirama dengan bertambahnya usia. Kupalingkan wajahku ke arah lain, agar air mata ini tak mengundang tanya pada keluarga. kemudian kutatap dengan tenang kamar perawatan di mana sosok seorang laki-laki tegap dan tampan yang pernah kukenal dan menjadi pautan hati seorang wanita ramah, terbaring lemah. Pasangan serasi ini adalah sejoli yang dipertautkan di dalam pelayanan kasih di Ladang Tuhan, jauh di negeri orang. Pria yang ramah dan tekun dalam panggilannya, yang juga adalah seorang suami yang sangat mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya, kini terbaring tak berdaya.
        Tuhan yang mempunyai kasih dan rencana. Dia pulalah yang sanggup untuk menyembuhkan. Sebab tidak ada yang mustahil bagiNya. Dalam tanganNya, "nasib" manusia tergenggam. Kita boleh menangguk harapan, serta membawa kepadaNya asa dan doa semoga Tuhan berkenan mendengarnya dan memberikan kesembuhan baginya.
        Segetir apapun rasa hati ini, aku memaksakan diri untuk berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring. Kuraih tangan kurus itu, sembari menahan sekuat hati air mataku. Aku berdoa secara perlahan memohon Kasih sayang Bapa Sorgawi, "Sembuhkanlah dia ya Tuhan"
       Hampir 13 tahun yang lalu, hal yang sama pernah kualami. Orang yang aku cintai bersama dengan anak-anakku, menjalani perawatan yang cukup serius dan intensif serta lama. Keadaan fisik suamiku saat itu persis sama dengan sosok yang terbaring di depanku sekarang ini.
Sepanjang kami mendampinginya, tak putus-putusnya kasih dan bimbingan Tuhan menopang kami. Saya dan anak-anak diberi kekuatan serta ketabahan menjalani semuanya, hingga tiba saatnya panggilan kasih Tuhan itu datang. Aku melihat, merasakan betapa kuasa dan kasih sayangNya, nyata memantauku, memegangku dengan erat hingga aku kuat menerima kenyataan itu. Aku Pasrah. Yang paling indah di mata orang-orang yang menyaksikan mujizat ini adalah ketika Tuhan memberiku kekuatan yang luar biasa untuk melepaskan suamiku dan menyerahkannya melalui doa kepada Bapa di sorga. Apa yang aku ucapkan kala itu, mengalir begitu saja, karena lidahku dipandu Roh Kudus. Di pangkuan anak kami dan di samping pembaringannya aku duduk.  Dikelilingi  sanak saudara dan handai taulan, ku lepas kepergianya dengan berkata, "Anak Tuhan jangan takut kembali kepada Bapa di surga, karena Tuhan Yesus dengan malaikatNya sudah menanti di pintu surga. Di sana pulalah, kita kan bertemu kembali." Andai pintu bibir ini tidak diberkati Tuhan, mana mungkin aku dapat mengucapkan semua kata-kata itu. Mujizat Tuhan yang sangat indah kami terima untuk melepaskan beliau ke rumah Bapa di Sorga.
          Sekian tahun bimbinganNya, pasca ditinggalkan suami terkasih, terus-menerus nyata dalam hidupku dan anak-anakku. Ku selalu berseru"Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu" (Ratapan 3:22-23). Terpujilah namaNya dan biarlah hatiku selalu riang memujiNya di sepanjang sisa usiaku.
Dalam harapku, aku selalu berseru kepadaNya, "Semoga suatu kali kelak tunas-tunas indah dan bernas, akan tumbuh dari rumpun keluarga sederhana ini serta berbuah nan lebat." Aku sungguh meyakini bahwa Dia, tiada pernah terlambat memberi pada orang-orang yang meyakini kuasaNya. Sebab," sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar"(Yes 59:1)
Ke dalam tanganNyalah kutaruhkan harapanku. Asa.