"Pergumulan tidak akan pernah sirna, akan tetapi HARAPAN selalu menguatkan manusia untuk menata hidup yang lebih baik."

Terimakasih atas kunjungan anda.

Halaman

~ Dari Rumah Sakit ke Rumah Sakit

Jumat, 30 Mei ‘08
Sesuai janji yang kami buat dengan Prof, pukul 08.00 pagi, kami sudah berada di Rumah Sakit. Setelah mengurus administrasi dan tetek bengek lainnya, kami dibawa ke ruang perawatan anak Dahlia diiringi pertanyaan cahaya hatiku, “Mama, mengapa aku dibawa ke Rumah Sakit, padahal aku tidak sakit?” “Mengapa aku harus tinggal di sini?” Pertanyaan lugu dan polos, tetapi sangat menohokku. Namun kucoba memberinya jawab semampuku agar dia mengerti. Walaupun butuh waktu.
Aku mengerti mengapa muncul pertanyaan seperti itu dari bibir kecilnya, sebab sampai hari Kamis kemarin ia masih ke sekolah. Mungkin ia merasa tidak ada yang bermasalah dengan dirinya, mengapa tiba-tiba harus dirawat inap di Rumah Sakit.

Ini adalah Rumah Sakit pertama, cahaya hatiku ,menerima perawatan selama 6 hari . Semenjak dirawat di tempat ini, banyak sudah dukungan yang diberikan oleh saudara-saudara, sahabat-sahabat, jemaat-jemaat, guru-guru dari sekolah tempat cahaya hatiku menuntut ilmu, teman-teman kelasnya beserta orangtua-orangtua mereka. Berbagai bentuk perhatian, doa, dukungan dan kepedulian serta cinta kasih dicurahkan bagi kami

Lawatan melalui kehadiran mereka di Rumah Sakit baik di Makassar, Jakarta pun di Singapore. Juga yang berupa telepon, sms dan email. Baik yang mencarikan informasi pun yang membantu dalam bentuk-bentuk yang lain, mengingatkan kami, bahwa sesungguhnya kami tidak sendirian menghadapi pergumulan ini. Kedatangan mereka dari berbagai gereja seperti GT Jemaat Tallo, Jemaat Tamalate, Jemaat Rama dan tentu Jemaat Bawakaraeng, menguatkan kami. Kehadiran rekan-rekan pendeta, guru-guru SDH-Makasar tempat cahaya hatiku menuntut ilmu, teman-teman kelasnya beserta orangtua-orangtua mereka, sungguh-sungguh mensuport kami. Kepada semua pihak, terucap terimakasih yang tulus dari kami sekeluarga, kiranya tali kasih yang telah terajut di antara kita semakin dipererat oleh cinta kasih Tuhan.

Kamis, 5 Juni ‘08
Seizin Prof yang merawatnya di Makassar, kami membawa cahaya hatiku ke Jakarta. Tentu dengan harapan bahwa penanganan di Jakarta akan lebih baik oleh karena peralatannya pastilah lebih lengkap dan lebih canggih dibandingkan dengan yang dimiliki Rumah Sakit – Rumah sakit di Makassar. Dengan harapan itu pula kami mempersiapkan hati dan diri. Pukul 06.00 pagi rekan-rekan Majelis Gereja dari Jemaat Bawakaraeng tiba di Rumah Sakit. Mereka datang mendoakan dan melepaskan kami sebagai wujud kebersama-samaan dan kepedulian selaku sesama rekan kerja. Kami berangkat ke bandara Hasanuddin pukul 06.30 setelah cairan infusnya dicabut.

Pukul 09.00 WIB, kami tiba di bandara Sukarno-Hatta dan dari bandara kami langsung menuju ke Rumah Sakit, tempat surat rujukan ditujukan. Dukungan teman-teman dokter di Makassar melalui relasi mereka di Jakarta, sangat menolong kami. Tiba di Rumah Sakit, tempat (kamar) perawatan sudah tersedia, sehingga kami tinggal masuk. Di Rumah Sakit ini, cahaya hatiku dirawat 11 hari di ruang perawatan PTK. Perhatian dan cinta kasih serta doa dari kerabat dan handai taulan, teman-teman pendeta juga kami rasakan dan alami di tempat ini. Melalui Warta Jemaat Gereja Toraja Klasis Pulau Jawa, kami mendapat dukungan doa dari banyak orang.

Pemeriksaan dilakukan dari awal lagi. Tetapi hasilnya tetap dalam diagnosa awal, “gagal ginjal”. Persoalan mengapa sehingga fungsi ginjal itu sangat menurun, diperkirakan hanya 20-25% saja, tetap tidak terdeteksi. Menurut Dokter yang merawatnya, semua cara untuk mengetahui penyebab suatu ginjal tidak berfungsi dengan baik yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut, sudah dilakukan bahkan sampai “foto nuklir” akan tetapi indikasi itu tidak juga ditemukan. Masih menurut beliau, “Pengobatan yang dilakukan di rumah sakit ini bukanlah untuk menghilangkan penyebab, tetapi mengobati akibat dari penyebab itu. Dan jika itu saja yang bisa dilakukan, di rumahpun hal yg sama bisa dibuat” Lagi katanya: “Masih ada satu cara, jika orang tua tidak keberatan, yakni biopsi, tetapi itupun belum bisa dipastikan apakah penyebabnya akan dapat diketahui (masih fifty-fifty).” Dug! Jantungku berdenyut kencang, keringat dingin membasahi tubuhku. Aku tak mampu lagi menahan air mataku. Sayup kudengar kata beliau menanggapi permintaan capt akan dokter yang mungkin beliau bisa rekomendir: “Kalau memang ada keinginan membawanya ke luar negeri, saya sarankan di bawa ke Australia atau Singapore yang terdekat, karena di negara-negara ini perlatan mereka jauh lebih lengkap (dan jauh lebih canggih)dari yang kita punyai. Di Singapore ada seorang dokter yg saya rekomendir , namanya Prof Yap Hui Kim di NUH Singapore.”

Pikirku, tidak ada jalan lain, aku harus membawanya ke Singapore. Sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di negri ini, namun harapan untuk kepulihan cahaya hatiku memaksaku untuk membuang jauh-jauh rasa kuatir, taku, gelisah dan bimbang yg seringkali mendera bathinku. Semua informasi yang kuperoleh, baik dari teman-teman di Makassar pun teman-teman di Jakarta kutindak lanjuti. Bersama capt-ku, kucoba menghubungi beberapa nomor telepon yang diberikan , sayang kebanyakan diantaranya adalah agen. Namanya juga agen, tentulah butuh biaya ekstra. Memang melalui agen pastilah lebih memudahkan, apalagi bagi kami yang baru pertama kali ke negri Marlion ini. Akan tetapi demi pengiritan biaya, kami mengambil keputusan untuk berangkat sendiri. Kami tertolong ketika seorang teman di Jakarta memberikan nomor telepon sekertaris Prof di Depertement of Pediatric NUH. Dan melalui sekertaris ini, kami membuat apoitmen dengannya. Jadilah kami datang ke Singapore pada hari Senin, 16 Juni ’08 sebgaimana permintaan beliau.
Jika orang lain memakai agen (yang memang banyak di Jakarta), kami mengandalkan “Agen Tunggal” kami, sebab kami yakin dan percaya hanya Dia yg pasti menolong dan tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.

Senin, 16 Juni ‘08
Setelah membuat apoitmen dengan Prof Yup melalui telepon, maka Senin dinihari kira-kira pukul 03.00 kami keluar dari Rumah Sakit di Jakarta menuju bandara Sukarno Hatta untuk terus ke Singapore. Dari Changi airport kami langsung ke NUH lengkap dengan kopor-kopor, bantal dan selimut. Berbekal surat rujukan dari dokter yg merawatnya di Jakarta, kami tidak mendapatkan kesulitan yang berarti. Apalagi memang sudah ada apoitmen. Tenaga medis di Rumah Sakit ini, mempunyai kepedulian yang tinggi. Mereka sangat proaktif dalam memberi pelayanan termasuk kepada kami.
Satu hal yang pasti, “Agen Tunggal” kami memangg luar biasa. Ia mengutus siapapun untuk menolong kami. Dan umumnya adalah mereka yang belum mengenalNya secara pribadi. Pertolongan yang tidak dibatasi oleh ras, agama, suku, negara dan golongan. Bagiku, ini adalah sebuah mujizat
Dalam menjalin relasi dengan orang lain, tentu faktor utama adalah bahasa dan komunikasi . Untuk hal yang satu ini aku agak “kagok” selain karena perbendahaaraan bahasa Inggrisku yang pas-pasan, aksen Inggris-Singapore memaksaku menggunakan semua kemampuan yang kumiliki dalam mencoba memahami makna dari setiap ungkapan. Beruntung sulungku bisa menjembatani, sehingga jadilah dia transleter bagiku, selama kami di sana, terlebih jika capt kembali ke Indonesia.

~ Curahan Hati

Tiga bulan lebih, semenjak cahaya hatiku menderita sakit, sebagai publisher aku tak pernah lagi meng- up - date blogspotku ini. Sesungguhnya aku ingin melakukannya, namun karena keterbatasan waktu, baru hari ini aku dapat melakukannya. Curahan isi hatiku selama mendampinginya dalam perawatan, akan menjadi warna baru dalam blogspot ini.
Selamat membaca

“Gagal ginjal kronik”, demikian vonis dokter ketika melihat hasil pemeriksaan laboratorium cahaya hatiku . Bagai disambar petir di siang bolong, aku tertegun. Seluruh persendianku terasa lemas. Dunia sekelilingku pun seakan menjadi gelap. Dengan menahan sekuat hati agar butiran air mataku tidak jatuh, lirih aku bertanya, “Masih ada harapan Prof?” “Masih perlu obserevasi lebih lanjut, akan tetapi melihat kreatininnya 8,75mg/dL dan ureumnya 101,3 mg/dL, sepertinya hal ini sudah berlangsung lama,” demikian kata beliau. Hatiku bertambah galau. Aku membathin, “Ya Tuhan mengapa harus dia?” “Mengapa aku tdk tanggap?” “Mengapa aku terlambat?” “Mengapa pemeriksaan laboratorium baru kulakukan sekarang?” Beruntun “mengapa” yang lain menyusul berputar-putar di kepalaku.
Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa putra keduaku ini akan divonis “gagal ginjal”. Keceriaannya setiap waktu dan berat badannya yang 45 kg di usia yang masih sangat mudah (9 thn 7 bulan) seakan-akan menutupi keganjilan ini.

Pikiraanku menerawang, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi dengan cahya hatiku belakangan ini, tetapi tak satupun dapat menolong. Yang hanya mampu kuingat ialah bahwa sudah 3 bulan ini, ia mulai malas makan. Menurutnya, ia ingin mengatur sendiri pola makannya. Mulanya kupikir itu hal yang bagus, bukankah selama ini aku selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu banyak makan sebab berat badannya yg 45 kg di usia 9 thn itu diatas BB normal anak seumurnya, namun tak digubrisnya? Sekarang ia sendiri yang ingin mengatur pola makannya, tentu melegahkan hatiku. Akan tetapi lama-kelamaan setelah kuperhatikan, rasanya ada yang salah, aku lalu membawanya ke dokter anak langganan kami tetapi kata beliau tidak apa-apa, tak ada yang mengkwatirkan. Rasa penasaran memaksaku untuk membawanya lagi ke dokter anak yg lain sekedar mencari second opinion tetapi juga kata beliau hanya alergi biasa. Akhirnya aku membawanya ke dokter THT dan menurut pemeriksaan beliau, ternyata memang tonsilnya membengkak. Setelah diobati akhirnya sembuh, namun nafsu makannya tetap kurang. Bahkan kaki dan lengannya mulai kaku-kaku dan keram. Ketika gejala itu datang ia memukul-mukulkannya pada benda-benda keras yang terdekat dengannya sambil menangis. Atas saran seorang teman kami lalu membawanya ke dokter saraf anak dan dari dokter inilah kami diminta untuk pemeriksaan darah rutin. Di laboratorium, capt meminta agar fungsi ginjal dan fungsi hatinya juga diperiksa. Ternyata hasil pemeriksaan lab menunjukkan Hb dan kalsiumnya sangat rendah sedangkan ureum dan kreatininnya sangat tinggi.

Anganku kutarik lebih jauh lagi ke belakang dan satu per satu mulai kurunut. Saat ia masih di dalam kandunganku, tak ada yang terlalu mengkuatirkan kecuali mual-mual yg memang biasa dialami oleh ibu-ibu hamil. Ia lahir secara normal dengan BB 3,5 kg, agak lama di “pintu” dan agak lama pula tangisnya baru terdengar . Tidak merangkak tetapi hanya berguling-guling sampai usia 2 thn. Di usia yang sama, mulai belajar jalan. Sejak usia 4 tahun, rutin ke dokter mata karena mata silinder bawaan. Sering sakit perut ketika batita sampai tdk bisa tertidur. Selebihnya semua normal. Namun mengapa sekarang tiba-tiba kreatinin dan ureumnya melonjak tinggi, aku tak tahu. Adakah hubungannya dengan semua ini, akupun tak tahu.

Samar kudengar Prof berkata, “Besok pagi jam 08.00 ia sudah harus di Rumah Sakit, agar lebih cepat ditangani.” “Baik Prof!” jawabku. Dengan hati gundah kami kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan,tak seorangpun yang bersuara, semua diam seribu bahasa. Sibuk dengan pikiran masing.
Telepon dari teman-teman KOMPAK ’08 untuk menghadiri pertemuan dengan KPPS dan beberapa dosen senior komunikasi dari Kampus Merahku di salah satu Rumah Makan tidak lagi kugubris. Pikiranku hanya berpusat pada satu titik saja, sekiranya mungkin malam segera berlalu dan aku dapat membawa cahaya hatiku ke Rumah Sakit.

~ Laptop baru

Oleh:Titi Yuliaty M.

Hari geneh dapat laptop baru? Siapa yang kagak mau. Aku pun demikian. Memang laptopku yang lama tidak bermasalah, akan tetapi menjadi “masalah” ketika tidak ada orang yang membantuku menentengnya. Apalagi klo kuliah dan presentasi di lantai III GPPS Kampus Merahku.Wuiih, capeknya kerasa benar. Sepertinya tanda-tanda ketuaan sudah mulai menghampiri diriku.

Mungkin karena kasihan melihatku, ketika Capt pulang ia membawakanku sebuah laptop baru. Katanya dari Amrik. Asli dan original. Mereknya Gateway.Windows Vista 2007Tentu aku senang-senang saja, sekalipun butuh proses panjang untuk mengoperasikannya. Maklumlah aku ini agak-agak gaptek.

Beruntung ada orang (secara tidak sengaja), yang mau menolongku untuk mengenal teknologi satu ini. Kuanggap saja dia "guru privatku" dalam soal urus-mengurus laptop.Sebab beberapa fitur dalam laptop kumengerti darinya. Membuat email n IM pun ia yang memperkenalkannya padaku. Blogspot juga, bahkan dibuatkannya untukku.( Ini lho yang sedang anda baca.)Trimakasih guru.

Dari “guru privat kebetulan n gratis pula ini”, aku bisa menuangkan isi hati dan berbagi pengalaman. Sayang, masih ada satu janji yang belum ditepatinya padaku yakni bagaimana memperkenalkan blogspot itu kepada khayalak. Moga-moga aja ia baca tulisan ini, agar tergerak hatinya untuk menepati janji itu. Sekalipun aku kurang yakin. Soalnya orang ini rada “aneh”. Kadang ngomongnya hangat banget, ttp lain kali dingin dan tak “berperasaan” bahkan cenderung "galak". Beberapa kali aku menerima ungkapan-ungkapan yang dingin dan tak berperasaan itu. Seringkali aku membathin, tdk tahukah ia betapa itu menyakitkan dan aku terluka? Suatu ketika ia pernah berkata, “Sepertinya aku selalu bermasalah dengan komunikasi kamu n bla...bla...bla...!!!!??” Di lain waktu ia katakan “………temperamen kamu suka ngadat ya!? Kamu itu suka eror!!?” (Weleh….weleh……HP kali’).

Sekalipun demikian aku senang mengenal dan membangun relasi dengannya. Saking senangnya kujuliki saja dia “belenk” (sstttt.. tahu ga , apa artinya belenk). Belenk dalam kamus besar buatanku adalah satu kata yang dapat mewakili seluruh perasaanku padanya. Ada rasa sayang, kasih ttp juga geregetan dan sebel (senang betul hehe). Bagiku, mengenal dia lebih dekat selalu ada yang baru. Paling tidak, tambahan ilmu tentang karakter manusia.

Yaah, membangun relasi dengan orang lain memang tidak mudah. Dibutuhkan kepekaan dan ketrampilan sosial yang tinggi; seberapa jauh kita bisa membuat hubungan, meyakinkan orang lain atas isi pesan yang kita komunikasikan. Dengan demikian, orang lain bisa tetap nyaman bersama kita dan mungkin bisa sepaham dengan isi pesan yang kita sampaikan, sementara kita sendiri juga tidak merasa terbebani melakukannya.
Memang, kadang sakit, kadang perih. Kadang ngakak, ttp kadang pula diam seribu bahasa. Walaupun demikian, toh tidak ada salahnya untuk terus mencoba dan mengasah kepekaan dan ketrampilan sosial ini. Sebab kata guruku dulu di SMA, lebih baik duduk daripada tidur, lebih baik berdiri daripada duduk, lebih baik berjalan daripada berdiri.
Itu berarti, lebih baik mencoba, daripada tidak sama sekali.

Kembali ke lap…top baru .
Eitt…., kapan-kapan lagi aja disambung ceritanya ya.

~ Shiro

Titi Yuliaty M.

Di rumah
Kurang lebih dua bulan yang lalu, kami kedatangan angota baru. Kehadirannya membawa sukacita bagi seisi rumah, terlebih khusus bagi ke empat cahaya hatiku. Setiap hari sepulang sekolah, mereka selalu berbagi canda dengannya. Memang lucu dan manis. Juga menggemaskan. Dengan rambutnya yang putih lebat, ia berlenggak-lenggok ke sana ke mari, mengundang perhatian orang.

Tapi sudah tiga hari belakangan ini, ia kelihatan lemas dan loyo. Tidak bernafsu saat disapa, pun ketika diberi makanan. Sepertinya ia sakit. Namun itu baru dugaanku saja. Tadi sore, ketika aku masih di tempat KRT, putra sulungku menelpon. Sambil tertahan ia menyampaikan kondisi terakhirnya; bahwa keadaannya sangat memprihatinkan. (Maklum, dari keempat cahaya hatiku, dialah yang paling dekat dengan Shiro). Tanpa menunggu kepulanganku, ia berinisiatif membawanya ke rumah temannya, tempat dimana ia mengambilnya. Tentu dengan harapan kalau-kalau sang teman dapat menolong. Beberapa temannya yang lain juga dihubunginya, tetapi tetap tak ada solusi.

Saat aku tiba di rumah,kulihat ia sudah memberinya kuning telur, gula merah dan air kelapa. Sebagai pertolongan pertama. Entah darimana resep itu diperolehnya, aku juga tidak tahu. Tak ketinggalan minyak telon dan minyak tawon dogosokkannnya pada seluruh badannya.

Keesokan harinya, ku coba memberikan lodia dan amoxilin dengan harapan ia tidak buang-buang air lagi, ttp tampaknya tidak mempan.
Tadi sore sulungku membawanya ke dokter, setelah beberapa hari mencari tahu alamat dan tempat praktek. Dokter lalu menuliskan resep obat yang harus ditebusnya di apotik. Ada empat item obat, antara lain promag dan antibiotik. Menurut diagnosa dokter, kemungkinan besar Shiro bermasalah di seputar pencernaan. Mungkinkah karena si mbak memberinya “makanan umum”? atau jangan-jangan memang ia masuk angi?

Di apotik
Sungguh, aku tahu kalau menunggu, adalah pekerjaan yang paling membosankan. Namun karena kerinduannya yang besar agar Shiro sembuh, sulungku tetap tenang menunggu giliran dipanggil untuk mengambil obatnya. Ketika nama “Anjing Shiro” dipanggil, tanpa beban ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil obatnya, lalu pergi meninggalkan apotik diiringi keheranan dan raut kebingungan sesama pengantri. Kalau boleh kutebak, mungkin dalam benak mereka menari-nari pertanyaan: “Adakah anak seganteng sulungku bernama seperti itu?”

Di rumah lagi
Hari ini, suasana rumah telah kembali ceria. Shiro sudah sembuh dari sakitnya.Terapi kuning telur 3 X 1 sehari rupanya mujarab. Ia sudah mulai lahap menyantap pedigreenya. Si mbak juga sudah memberinya lagi “makanan umum” (nasi lembek dicampur daging ayam). Terlebih setelah Capt memandikannya tadi siang. Sulungku tak lagi kelihatan bersedih. Ia sudah kembali bermain-main dengan Shiro-si pudel putihnya. Berkejar-kejaran di halaman rumah hingga ke kolam renang. Berbagi suka berbagi canda bersama dengan ke empat cahaya hatiku.

Melihat keceriaan mereka, terbersit asa dalam benakku, betapa indahnya andai saja semua ciptaan dapat berbagi keceriaan dan sukacita seperti mereka.
Akh, Shiro, kau telah kembali menebar pesonamu. Adakah juga setiap insan dapat "menebar pesona" bagi sesamanya? Wallahualam.

~ Persahabatan

Oleh : Titi Yuliaty M./BY

Dering telepon di ujung malam, memaksaku bangkit dari peraduan. Kusingkapkan selimutku dan dengan menahan kantuk, kuangkat gagang telepon sembari memberi salam: “Halo, Selamat malam!” Terdengar derai tawa dengan intonasi suara baritone yang dalam & khas, dari ujung sana menjawab sapaanku. “Dug”, hatiku berdetak. Rasanya suara ini pernah akrab di telinga. Sekalipun ,sekian purnama tak pernah lagi terdengar. "Pikirku, engkau telah melupakan sahabat lama;" Sebuah pernyataan merajuk dalam penantian yg usang. "Lupakah engkau?" tanyaku, menampar ujung salamnya. Tak mau kalah ia berujar, “Sengaja, agar rasa kangen menumpuk, barulah diletuskan." Konyol! Sifatnya yang satu ini, sepertinya tak pernah hilang dari kehidupannya.

Tak terasa 9 tahun sudah jalinan persahabatan itu terajut dengan indah. Setelah dia menikah pun, jalinan persahabatan ini tak jua usai. Sosok bersahaja yang pernah kukenal. Penampilannya biasa-biasa saja. Akan tetapi tegas dalam mempertahankan prinsip dan setia serta teguh memegang janji. Itulah sifatnya yang sampai sekarang pengikat tali persahabatan kami. Sifat yang tak pudar dan tak lekang dimakan waktu. Jujur ku akui; dia adalah sahabat yang sangat ku kagumi.

Saat menyaksikan dirinya menjadi bintang tamu dalam berbagai talk show. Ketika ia wara-wiri menjadi pembicara baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Ketika ia berbagi ilmu dan pemikiran kepada berbagai kalangan, sering terlintas dalam benak, mungkinkah ia telah melupakan jalinan persahabatan ini? Hati menjadi gundah.

Kegundahan yang, sering membuatku diayun rasa bimbang. Kerisauan yang membuat rasa kantuk yang berat kutepis sekuatnya, lalu bangkit menguak jendela kamar.Cahaya bintang menjadi kemayu menyoroti wajahku yang pias oleh bermacam-macam perasaan. Serasa menjadi dungu. Kutatap langit malam, mencari makna. Seulas senyum kudapat dari bulan sabit yang bersinar dengan enggan. Seberkas sinar kelabu mengiringinya, melayari sepinya malam. Kerlap-kerlip bintang menyemarakkan suasana, namun hatiku tetap pilu, tak bersuka menyambut kehadiran mereka. Kalbuku tetap tak dapat diajak beria-ria. Aku semakin merasakan ngilu di relung hatiku. Mungkinkah bahtera persahabatan ini akan karam?

Namun, sapaannya yang akrab di ujung telepon, menjawab semua kekuatiran dan keraguanku. Kegundahanku terjawab sudah. Ia masih sahabatku yang dulu. Meskipun kehidupannya semakin mapan dan karirnya semakin matang, tidak membuatnya lupa kepada seorang sahabat. Ia tetap mengingatku sebagai sahabatnya, meskipun aku hanyalah bahagian dari akar rumput. Benar, ujar bijak Salomo: "Seorang sahbat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." Amsal 17:17. Ahh... selalu ada asa.

Kuarahkan bola mataku kembali ke atas kerlap-kerlip gemintang di langit. Sesaat kemudian, jendela kamar kututup. Dengan perlahan dan tenang aku berlutut menghadap Sang Khalik, seraya berucap: "Trimakasih Tuhan atas semua kasih sayang dan bimbinganMu. Trimakasih Tuhan untuk kehadiran seorang sahabat sejati. Amin"