Titi Yuliaty Mangape
Makanan khas dari daerah Jawa ini memang selalu menggugah selerah. Apalagi klo cabe rawitnya ditambah dikit, wuihhh, enuak benar, sekalipun zzhhhh…… n keringat bercucuran saking kepedasan. Paling tidak itu yang aku rasakan. Seorang ibu di jemaat tempat aku melayani saat ini, bahkan mendapat julukan “tante gado-gado”, saking demennya pada makanan yang satu ini.
Terlepas dari itu semua, ketika di hadapanku tersaji sepiring gado-gado , pikiranku dipenuhi dengan berbagai pengandaian. Andai semua umat Tuhan memahami betapa kehadirannya laksana sepiring “gado-gado” yang lezat tatkala orang “menyantapnya”, ah….. betapa indah dan menyenangkannya.
Dengan berbagai corak dan karakter. Dengan berbagai warna dan warni. Ada yang seperti kangkung-hijau segar, ttp cepat layu. Ada yang seperti kacang panjang yang mungkin panjang-panjang pula akalnya. Ada yang seperti touge, pendek ttp akarnya panjang menghunjam ke tanah. Ada yang seperti kerupuk saat baru selesai digoreng renyahnya bukan main, akan ttp tidak lama kemudian menjadi melempem jikalau dibiarkan di tempat terbuka hanya karena hembusan angin sepoi-sepoi. Ada yg seperti cabe rawit, kecil-kecil tetapi minta ampun pedasnya. Namun ada pula yang seperti telur , semakin lama direbus, justru semakin keras; yang semula cair, setelah melalui proses perebusan menjadi padat. banyak lagi yang lain.
Satu hal yang pasti, setelah semuanya “diramu” dan “disiram saus kacang”, luarrrr biasa nikmatnya. Perbedaan yang ada tidak lagi menjadi penghambat tetapi justru semakin menambah nikmatnya hidup persekutuan. Sebab kata orang dan juga kata saya, “berbeda itu indah”. Justru ketika perbedaan-perbedaan itu mampu dimanage dengan baik dan tepat, maka akan nampaklah kekuatan dan keindahannya.
"Pergumulan tidak akan pernah sirna, akan tetapi HARAPAN selalu menguatkan manusia untuk menata hidup yang lebih baik."
Terimakasih atas kunjungan anda.
Halaman

Kota Pakarena, 24 Agustus 2007
Untuk yang terkasih
"Bunda Ny. Arita Tomasoa-Lande"
Alangkah indahnya ombak di laut lepas.
Mengalun lembut menampar bibir pantai Losari
Beriang mengusung buih-buih putih.
Menyampaikan salam kepadamu kekasih
Burung-burung camar, terbang meliuk dengan indahnya,
memamerkan sayap-sayap terbuka, bagaikan rangkaian kipas,
menukik, bercumbu dengan buih-buih putih
kepingan kayu cendana, riang bercanda dengan birunya air samudara
Oh, simak senandung mereka
Maknai jerit lembut suara mereka
Buka pintu hatimu sesaat Bunda,
Menyambut salam mereka
Himbau sayup suara terdengar
Di pagi sepi ini, bersama terbitnya sang bagaskara
Kami menyampaikan elegi manis
Tersalut dalam bahagia
Bagimu Bunda
" Selamat Hari Ulang Tahun ke-84
Tuhan bersamamu selalu"
Dari:
Ny. Sarah Karangan Sampetoding
~ Sepenggal Asa Kugenggam dalam Hidupku
Filed Under :
Nuansa Kesaksian
by Titi Yuliaty Mangape
Sabtu, 01 Maret 2008Bunda Yasmin
Hari ini, aku ada janji menjenguk keluarga yang sedang sakit. Aku berupaya selesai menata diri sebelum jemputan tiba. Tepat waktu, sebuah Honda New Accord-dark blue metalik berhenti sejenak di halaman depan rumahku. Tak lama kemudian kami segera meluncur. Senang mempunyai teman yang menghargai waktu dan tidak membiarkan perasaan orang lain dihinggapi rasa bosan menanti. Ya itulah hidup
Kami lama berbincang-bindang di teras Rumah sakit, sambil berusaha menghibur hati keluarga yang ada di sana. Di teras paviliun tempat tempat kami duduk, banyak kembang-kembang soka tumbuh dengan subur. Indahnya kembang soka ini, bunganya merah menyala, tersembul dari antara daun-daun hijau tua nan mengkilat tertimpa cahaya sang surya. Aku tercenung beberapa saat menikmati keindahan bunga-bunga ini. Sejenak anganku melayang pada suamiku yang telah lama kembali ke pangkuan Tuhan. Ia sangat menyukai kembang-kembang soka, apalagi jenis hibrida seperti di taman itu. Warnanyapun sangat disenanginya, baik itu warna kuning emas, salem dan putih. Kala rutinitas dan pekerjaanya di kantor telah selesai dan ia kembali ke rumah, pertama-tama yang disapanya adalah bunga-bunga itu. Tetapi, ah.... itu telah lama berlalu.
Tanpa terasa, air mataku jatuh membasahi pipiku yang mulai keriput seirama dengan bertambahnya usia. Kupalingkan wajahku ke arah lain, agar air mata ini tak mengundang tanya pada keluarga. kemudian kutatap dengan tenang kamar perawatan di mana sosok seorang laki-laki tegap dan tampan yang pernah kukenal dan menjadi pautan hati seorang wanita ramah, terbaring lemah. Pasangan serasi ini adalah sejoli yang dipertautkan di dalam pelayanan kasih di Ladang Tuhan, jauh di negeri orang. Pria yang ramah dan tekun dalam panggilannya, yang juga adalah seorang suami yang sangat mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya, kini terbaring tak berdaya.
Tuhan yang mempunyai kasih dan rencana. Dia pulalah yang sanggup untuk menyembuhkan. Sebab tidak ada yang mustahil bagiNya. Dalam tanganNya, "nasib" manusia tergenggam. Kita boleh menangguk harapan, serta membawa kepadaNya asa dan doa semoga Tuhan berkenan mendengarnya dan memberikan kesembuhan baginya.
Segetir apapun rasa hati ini, aku memaksakan diri untuk berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring. Kuraih tangan kurus itu, sembari menahan sekuat hati air mataku. Aku berdoa secara perlahan memohon Kasih sayang Bapa Sorgawi, "Sembuhkanlah dia ya Tuhan"
Hampir 13 tahun yang lalu, hal yang sama pernah kualami. Orang yang aku cintai bersama dengan anak-anakku, menjalani perawatan yang cukup serius dan intensif serta lama. Keadaan fisik suamiku saat itu persis sama dengan sosok yang terbaring di depanku sekarang ini.
Sepanjang kami mendampinginya, tak putus-putusnya kasih dan bimbingan Tuhan menopang kami. Saya dan anak-anak diberi kekuatan serta ketabahan menjalani semuanya, hingga tiba saatnya panggilan kasih Tuhan itu datang. Aku melihat, merasakan betapa kuasa dan kasih sayangNya, nyata memantauku, memegangku dengan erat hingga aku kuat menerima kenyataan itu. Aku Pasrah. Yang paling indah di mata orang-orang yang menyaksikan mujizat ini adalah ketika Tuhan memberiku kekuatan yang luar biasa untuk melepaskan suamiku dan menyerahkannya melalui doa kepada Bapa di sorga. Apa yang aku ucapkan kala itu, mengalir begitu saja, karena lidahku dipandu Roh Kudus. Di pangkuan anak kami dan di samping pembaringannya aku duduk. Dikelilingi sanak saudara dan handai taulan, ku lepas kepergianya dengan berkata, "Anak Tuhan jangan takut kembali kepada Bapa di surga, karena Tuhan Yesus dengan malaikatNya sudah menanti di pintu surga. Di sana pulalah, kita kan bertemu kembali." Andai pintu bibir ini tidak diberkati Tuhan, mana mungkin aku dapat mengucapkan semua kata-kata itu. Mujizat Tuhan yang sangat indah kami terima untuk melepaskan beliau ke rumah Bapa di Sorga.
Sekian tahun bimbinganNya, pasca ditinggalkan suami terkasih, terus-menerus nyata dalam hidupku dan anak-anakku. Ku selalu berseru"Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu" (Ratapan 3:22-23). Terpujilah namaNya dan biarlah hatiku selalu riang memujiNya di sepanjang sisa usiaku.
Dalam harapku, aku selalu berseru kepadaNya, "Semoga suatu kali kelak tunas-tunas indah dan bernas, akan tumbuh dari rumpun keluarga sederhana ini serta berbuah nan lebat." Aku sungguh meyakini bahwa Dia, tiada pernah terlambat memberi pada orang-orang yang meyakini kuasaNya. Sebab," sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar"(Yes 59:1)
Ke dalam tanganNyalah kutaruhkan harapanku. Asa.
Titi Yuliaty Mangape
Aku mengenal beliau sebagai sosok yang tegar. Di usian yang semakin senja, kreatifitas dan aktifitasnya tak pernah pudar. Dalam kesendiriannya selaku orang tua tunggal, ia berusaha menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesetiaan, loyalitas, dedikasi dan pengabdian bagi anak-anaknya
Raut wajah yang masih menyisakan kecantikan masa muda, sorot mata yang tajam, senyuman khas dan buah-buah perenungannya melalui coretan penanya-laksana mutiara yang terpendam, selalu menarik langkah kaki ini untuk bertandang ke tempat kediamannya. Perbincangan yang terjalin dengan penuh kasih, diiringi tawa dan canda semakin mempererat relasi yang tercipta."Oma", itulah sapaan akrabku baginya. Sekalipun beliau lebih senang disapa "Bunda", akan tetapi entah mengapa aku diberi hak istimewa untuk menyapanya sesuai keinginanku.
Suatu ketika, tatkala aku bertanya mengapa banyak orang yang lebih mengenalnya sebagai "Bunda Yasmin", maka mengalirlah cerita di balik pemberian nama itu. Seindah, seputih dan seharum melati, itulah sosok tegar yang selalu memberiku inspirasi dalam berkarya. Katanya, "Wanita, jangan bimbang. Langkahmu jangan diayun surut. Majulah terus dan angkat beban itu, seberapa yang dapat engkau rengkuh. Itulah kodratmu, karena telah diciptakan menjadi makhluk yang lemah, namun dikaruniai pesona keindahan."
Hal yang paling mengesankan ketika aku bersua dengannya ialah kala kesaksian hidupnya mengalir dari bibirnya. Dengan suara yang kadang tersendat-sendat, dikuatkannya hatinya untuk berbagi perenungan denganku betapa Kasih Sang Ilahi tak pernah pudar dalam hidupnya. Dalam meniti hidup ini, baginya selalu ada Asa tergenggam dalam tangan. Atas seisin beliau, melalui blog ini, kesaksian itu tersaji bagi kita. Kiranya menginspirasi dalam karya dan juang bahwa selalu ada harapan di balik setiap ratapan/pergumulan.
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMU”
Indonesia meratap………… bumi pertiwi menangis
Ketika menyaksikan anak bangsa saling bertikai
Timor-Timur lepas dari pangkuan sang bunda
Aceh bergolak, Maluku tercabik-cabik
Papua bertikai, Poso luluh lantak
Indonesia meratap, tiada lagi harapan
Banyak orang pesimis, akankah hasil PEMILU capres dan cawapres membawa nuansa baru bagi bangsa ini? Muncullah berbagai ungkapan, “ Siapapun yang memerintah, takkan mampu mengubah keadaan.” “Siapa pun yang terpilih pastilah hanya akan memperhatikan kepeningan pribadi dan golongan/kelompoknya.”
Orang-orang, sudah trauma dengan kenyataan-kenyataan selama ini, sehingga bagi mereka proses pemilihan wakil-wakil rakyat atau pesta demorasi hanyalah pemborosan belaka. Reaksi terhadap ketidakadilan dan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat muncul dalam berbagai bentuk. Demonstarsi terjadi di mana-mana. Rakyat sudah jenuh dengan janji-janji manis sebatas pemanis bibir belaka, yang tidak pernah menjadi kenyataan dan itu membuat banyak orang kehilangan harapan.
Saudara-saudarayang dikasihi Tuhan…………
Situasi yang menyebabkan umat Israel meratap pilu, yang terangkai lewat syair-syair Ratapan, masih jauh lebih pahit dibandingkan dengan keadaan yang dihadapi oleh bangsa ini. Akan ttp toh, dalam situasi seperti itu, ternyata masih ada orang yang tetap yakin pada kasih setia Tuhan. Secara keseluruhan, Kitab Ratapan menyaksikan tentang ungkapan syair-syair umat Yehuda dalam menghadapi beratnya tekanan penderitaan dan cengkeraman kuasa maut karena peristiwa kehancuran Yerusalem. Dilukiskan betapa beratnya penghukuman karena dosa yang dialami umatNya ketika itu. Pun betapa mereka sadar bahwa ketika Tuhan murka, maka tdk ada seorang jua yang dapat luput dan selamat. Dalam menghadapi situasi yang memilukan dan menyayat hati itu, penulis menghimbau bangsanya agar mereka sadar, mengakui akan dosa dan pemberontakannya, serta bertobat dan memohon dengan penuh pengharapan akan pengampunan dan pembebasan dari Tuhan.
Nas perenungan kita, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMU”
“tak berkesudahan” artinya kasih setia Tuhan tiada batasnya; tiada berubah dahulu, sekarang bahkan sampai selama-lamanya (bdk Ibrani 13:8)
“tak berkesudahan”, merupakan puncak pengharapan dan keyakinan penulis bahwa betapa pun hancurnya kehidupan karena dosa, betapapun seseorang telah kehilangan asa atau harapan karena pahitnya kenyataan hidup yang tak kunjung berakhir, haruslah ia datang bersandar kepada Allah karena rahmat dan kesetiaanNya jauh melebihi segala penderitaan yang mereka alami. Bahkan rahmat itu, selalu baru tiap pagi. Karena itu, dengan iman yang teguh, penulis terus mengingatkan mereka bahwa sekalipun keadaan Yehuda sudah sangat buruk, akan tetapi harapan tidaklah berarti pupus, sebab kesetiaan Allah menjadi satu-satunya alasan untuk tetap bersukacita di tengah-tengah bencana cambuk murkaNya yang menimpa mereka. Hal ini juga diyakini dan disaksikan oleh pemazmur bahwa Allah tidaklah pendendam. “Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita dan tidak dibalasnya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita” (Maz 103:10); Ia bahkan menjauhkan kita dari segala pelanggaran kita: “Sejauh Timur dari Barat, demikian diajuhkanNya dari pada kita pelanggaran kita “(Maz 103:12). Artinya Ia penuh kasih dan pengampunan. Oleh karena itu umatNya jangan pernah putus asa untuk berharap padaNya.
Bentuk keyakinan dan kekaguman tentang kesetiaan Allah di tengah-tengah penderitaan dan tekanan hidup yang semakin mengancam kehidupan mereka, nampak jelas dalam ungkapan, “Sangkaku:hilang lenyaplah kemasyuranku dan harapanku kepada Tuhan.” “Sangkaku”, menunjukkan pengakuan penulis bahwa pikirannya tentang sikap Allah dalam menghukum mereka ternyata keliru, sebab Allah tidak untuk selamanya menghukum mereka. Di balik penghukuman itu, Allah bermaksud mendidik umatNya. Ia bahkan menjanjikan, sekaligus menjadikan janji itu sebagai suatu kenyataan yang disaksikan dan dialami sendiri umatNya, termasuk penulis.
“Sangkaku” , suatu ungkapan yang juga menunjukkan gambaran akan betapa terbatasnya pemikiran manusia terhadap rancangan-rancangan Allah. Padahal, ia (penulis kitab Ratapan), termasuk orang yang melihat bahkan mengalami sendiri sengsara yang disebabkan cambuk murkaNya. Ia dihalau dan dibawa ke dalam kegelapan yang tiada terangnya, dipukul berulang-ulang sepanjang hari, menjadikan ia tertawaan bagi segenap bangsanya, menjadi lagu ejekan sepanjang hari. Tidak berhenti sampai di situ, Allah bahkan mengenyangkan dia dengan kepahitan, memberi dia minum ipuh, meremukkan giginya dengan kerikil sehingga lupa akan kebahagiaan. Ketika ia memanggil dan berteriak minta tolong, Tuhan tidak mendengar doanya. Namun, kini, sepahit apa pun penderitaan yang pernah dialaminya, tidak menyusutkan imannya untuk tetap berharap kepada Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan pasti mengingat kesengsaraan, pengembaraan, akan ipuh dan racun sebagai gambaran penderitaan yang tiada taranya yang pernah dialaminya. Pengalaman-pengalaman pahit itu haruslah menempa dan mendidik mereka untuk kembali menjadi umat Allah yang setia. Sekaligus menyadari bahwa penghukuman itu adalah akibat dari dosa-dosa mereka. Karena itu ia tiada henti menyerukan kepada bangsanya agar tetap kuat dan senantiasa berharap pada kasih setia dan rahmatTuhan yang tiada habisnya bahkan sll baru setiap pagi. Ia meyakinkan umatNya tentang kebaikan Allah dan karena itu mereka harus diam menanti pertolongan TUHAN. “menanti denga diam” artinya sabar dan setia sekalipun banyak tantangan yang harus dihadapi. Sebab dalam persoalan hidup sepahit apapun, Tuhan pasti menolong kita (bdk Mz 62:9; 86:7).
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan……..
Dengan penuh kasih, kesetiaan dan pengampunan, Allah telah menjanjikan sekaligus menjadikan janji itu menjadi kenyataan yang disaksikan dan dialami sendiri oleh umatNya. Itu berarti, selaku anak bangsa yang mungkin telah mengalami berbagai ketidakadilan, kita pun tidak boleh berputus asa. Melainkan sebagaimana penulis Ratapan, maka kita juga harus “diam menanti pertolongan Tuhan”. Keyakinan dan keteguhan iman penulis haruslah juga menjadi keyakinan kita. Bahwa di tengah-tengah penderitaan yang dialami umatNya, masih ada orang yang tidak kehilangan harapan. Sebab ia yakin, Allah mereka tidak akan pernah kalah.
Saudara.........
Dalam kehidupan berjemaat pun, banyak hal yang sering membuat kita berputus asa. Kiranya melalui Firman Tuhan ini, kita dikuatkan dan diyakinkan bahwa “Sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar”(Yes 51:1) . Di balik ratapan, kelush-kesah dan pergumulan kita menghadapi realitas skehidupan ini, selaku warga negara Indonesia dan selaku warga jemaat haruslah ada asa dengan keyakinan Dia pasti menjawab doa dan harapan-harapan kita.
Di tengah penderitaan dan tekanan hidup yang kian mengancam, Kristus hadir mewartakan kerajaan Allah, mewartakan dan mewujudkan karya penyelamataanNya. Tidak hanya masa lalu dan masa sekarang akan tetapi justru berkat-berkatNya selalu baru setiap pagi tersedia untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Itu berarti kita harus yakin bahwa di tengah-tengah situasi hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia tercinta ini, kasih yang dahulu telah dinyatakan Allah kepada bangsa Israel, kini dan ke depan pasti akan dinyatakan pula oleh Allah kepada kita. Dengan pengharapan dan jaminan keselamatan dalam Yesus Kristus, tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi.
Tema kita, “Asa di Balik Ratapan” memberikan kita kekuatan dan harapan bahwa di balik berbagai persolan hidup, Kristus hadir bahkan setiap saat siap menolong orang-orang yang berseru kepadaNya. Melalui kuasa Roh Kudus, Ia menguatkan orang-orang yang bergumul, meratap, berduka ….
Kenyataan di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang menyengsarakan, berbagai pengalam pahit mendukacitakan, tentu membutuhkan pertolongan. Harapan kita satu-satunya ahanya satu yaitu Kasih Allah. Kita percaya bahwa hanya dekat Dia saja kita tenag (Mz 62). Dalam semua itu kita harus bertobat, lalu datang dengan penuh kerendahan hati kepadaNya
Jemaat Tuhan………..
Hanya degan iman yang sungguh kepada Kristus, kita akan dimampukan untuk melihat berbagai realitas hidup, baik suka maupun duka sebagai sesuatu yang tidak terjadi dengan sendirinya. Sebab seantero kehidupan kita adalah milikNya (bdk. Luk 21:17-19). Karena itu, setiap orang haruslah bertobat dan “diam menanti pertolonganNya”. AMIN
"Disusun dalam rangka pemeriksaan ajaran dan perihidup proponen Yuliaty Mangape di Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng-Klasis Makassar, Sabtu, 31 Juli 2004. (Dalam banyak keterbatasan).
Mengenai Saya
- Titi Yuliaty Mangape
- Makassar, Sulawesi-Selatan, Indonesia
- Seorang ibu rumah tangga yang mencoba menuangkan sedikit isi hati dan berbagi sedikit perenungan serta refleksi hidup, bahwa selalu ada asa di balik. setiap ratapan.
Lencana Facebook
Megaratu Meissha Elisyeva Mangngi
Labels
- Buku (1)
- Curahan Hati (12)
- Event Jemaat (3)
- Kampus Merah (1)
- Kampus Ungu (2)
- Nuansa Kehidupan (5)
- Nuansa Kesaksian (4)
- Nuansa Khotba (2)
- Nuansa Medika (3)
- Nuansa Refleksi (12)
- Nuansa Warna-warni (9)
- Nuansa Wisata (3)
- Singapore (3)
- Yang Tercecer (3)
Blog Archive
List of my link
Pesan kepedulian untukku
Wp Theme by Promiseringsdesigns | Blogger Template by Anshul