"Pergumulan tidak akan pernah sirna, akan tetapi HARAPAN selalu menguatkan manusia untuk menata hidup yang lebih baik."

Terimakasih atas kunjungan anda.

Halaman

~ Laptop baru

Oleh:Titi Yuliaty M.

Hari geneh dapat laptop baru? Siapa yang kagak mau. Aku pun demikian. Memang laptopku yang lama tidak bermasalah, akan tetapi menjadi “masalah” ketika tidak ada orang yang membantuku menentengnya. Apalagi klo kuliah dan presentasi di lantai III GPPS Kampus Merahku.Wuiih, capeknya kerasa benar. Sepertinya tanda-tanda ketuaan sudah mulai menghampiri diriku.

Mungkin karena kasihan melihatku, ketika Capt pulang ia membawakanku sebuah laptop baru. Katanya dari Amrik. Asli dan original. Mereknya Gateway.Windows Vista 2007Tentu aku senang-senang saja, sekalipun butuh proses panjang untuk mengoperasikannya. Maklumlah aku ini agak-agak gaptek.

Beruntung ada orang (secara tidak sengaja), yang mau menolongku untuk mengenal teknologi satu ini. Kuanggap saja dia "guru privatku" dalam soal urus-mengurus laptop.Sebab beberapa fitur dalam laptop kumengerti darinya. Membuat email n IM pun ia yang memperkenalkannya padaku. Blogspot juga, bahkan dibuatkannya untukku.( Ini lho yang sedang anda baca.)Trimakasih guru.

Dari “guru privat kebetulan n gratis pula ini”, aku bisa menuangkan isi hati dan berbagi pengalaman. Sayang, masih ada satu janji yang belum ditepatinya padaku yakni bagaimana memperkenalkan blogspot itu kepada khayalak. Moga-moga aja ia baca tulisan ini, agar tergerak hatinya untuk menepati janji itu. Sekalipun aku kurang yakin. Soalnya orang ini rada “aneh”. Kadang ngomongnya hangat banget, ttp lain kali dingin dan tak “berperasaan” bahkan cenderung "galak". Beberapa kali aku menerima ungkapan-ungkapan yang dingin dan tak berperasaan itu. Seringkali aku membathin, tdk tahukah ia betapa itu menyakitkan dan aku terluka? Suatu ketika ia pernah berkata, “Sepertinya aku selalu bermasalah dengan komunikasi kamu n bla...bla...bla...!!!!??” Di lain waktu ia katakan “………temperamen kamu suka ngadat ya!? Kamu itu suka eror!!?” (Weleh….weleh……HP kali’).

Sekalipun demikian aku senang mengenal dan membangun relasi dengannya. Saking senangnya kujuliki saja dia “belenk” (sstttt.. tahu ga , apa artinya belenk). Belenk dalam kamus besar buatanku adalah satu kata yang dapat mewakili seluruh perasaanku padanya. Ada rasa sayang, kasih ttp juga geregetan dan sebel (senang betul hehe). Bagiku, mengenal dia lebih dekat selalu ada yang baru. Paling tidak, tambahan ilmu tentang karakter manusia.

Yaah, membangun relasi dengan orang lain memang tidak mudah. Dibutuhkan kepekaan dan ketrampilan sosial yang tinggi; seberapa jauh kita bisa membuat hubungan, meyakinkan orang lain atas isi pesan yang kita komunikasikan. Dengan demikian, orang lain bisa tetap nyaman bersama kita dan mungkin bisa sepaham dengan isi pesan yang kita sampaikan, sementara kita sendiri juga tidak merasa terbebani melakukannya.
Memang, kadang sakit, kadang perih. Kadang ngakak, ttp kadang pula diam seribu bahasa. Walaupun demikian, toh tidak ada salahnya untuk terus mencoba dan mengasah kepekaan dan ketrampilan sosial ini. Sebab kata guruku dulu di SMA, lebih baik duduk daripada tidur, lebih baik berdiri daripada duduk, lebih baik berjalan daripada berdiri.
Itu berarti, lebih baik mencoba, daripada tidak sama sekali.

Kembali ke lap…top baru .
Eitt…., kapan-kapan lagi aja disambung ceritanya ya.

~ Shiro

Titi Yuliaty M.

Di rumah
Kurang lebih dua bulan yang lalu, kami kedatangan angota baru. Kehadirannya membawa sukacita bagi seisi rumah, terlebih khusus bagi ke empat cahaya hatiku. Setiap hari sepulang sekolah, mereka selalu berbagi canda dengannya. Memang lucu dan manis. Juga menggemaskan. Dengan rambutnya yang putih lebat, ia berlenggak-lenggok ke sana ke mari, mengundang perhatian orang.

Tapi sudah tiga hari belakangan ini, ia kelihatan lemas dan loyo. Tidak bernafsu saat disapa, pun ketika diberi makanan. Sepertinya ia sakit. Namun itu baru dugaanku saja. Tadi sore, ketika aku masih di tempat KRT, putra sulungku menelpon. Sambil tertahan ia menyampaikan kondisi terakhirnya; bahwa keadaannya sangat memprihatinkan. (Maklum, dari keempat cahaya hatiku, dialah yang paling dekat dengan Shiro). Tanpa menunggu kepulanganku, ia berinisiatif membawanya ke rumah temannya, tempat dimana ia mengambilnya. Tentu dengan harapan kalau-kalau sang teman dapat menolong. Beberapa temannya yang lain juga dihubunginya, tetapi tetap tak ada solusi.

Saat aku tiba di rumah,kulihat ia sudah memberinya kuning telur, gula merah dan air kelapa. Sebagai pertolongan pertama. Entah darimana resep itu diperolehnya, aku juga tidak tahu. Tak ketinggalan minyak telon dan minyak tawon dogosokkannnya pada seluruh badannya.

Keesokan harinya, ku coba memberikan lodia dan amoxilin dengan harapan ia tidak buang-buang air lagi, ttp tampaknya tidak mempan.
Tadi sore sulungku membawanya ke dokter, setelah beberapa hari mencari tahu alamat dan tempat praktek. Dokter lalu menuliskan resep obat yang harus ditebusnya di apotik. Ada empat item obat, antara lain promag dan antibiotik. Menurut diagnosa dokter, kemungkinan besar Shiro bermasalah di seputar pencernaan. Mungkinkah karena si mbak memberinya “makanan umum”? atau jangan-jangan memang ia masuk angi?

Di apotik
Sungguh, aku tahu kalau menunggu, adalah pekerjaan yang paling membosankan. Namun karena kerinduannya yang besar agar Shiro sembuh, sulungku tetap tenang menunggu giliran dipanggil untuk mengambil obatnya. Ketika nama “Anjing Shiro” dipanggil, tanpa beban ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil obatnya, lalu pergi meninggalkan apotik diiringi keheranan dan raut kebingungan sesama pengantri. Kalau boleh kutebak, mungkin dalam benak mereka menari-nari pertanyaan: “Adakah anak seganteng sulungku bernama seperti itu?”

Di rumah lagi
Hari ini, suasana rumah telah kembali ceria. Shiro sudah sembuh dari sakitnya.Terapi kuning telur 3 X 1 sehari rupanya mujarab. Ia sudah mulai lahap menyantap pedigreenya. Si mbak juga sudah memberinya lagi “makanan umum” (nasi lembek dicampur daging ayam). Terlebih setelah Capt memandikannya tadi siang. Sulungku tak lagi kelihatan bersedih. Ia sudah kembali bermain-main dengan Shiro-si pudel putihnya. Berkejar-kejaran di halaman rumah hingga ke kolam renang. Berbagi suka berbagi canda bersama dengan ke empat cahaya hatiku.

Melihat keceriaan mereka, terbersit asa dalam benakku, betapa indahnya andai saja semua ciptaan dapat berbagi keceriaan dan sukacita seperti mereka.
Akh, Shiro, kau telah kembali menebar pesonamu. Adakah juga setiap insan dapat "menebar pesona" bagi sesamanya? Wallahualam.

~ Persahabatan

Oleh : Titi Yuliaty M./BY

Dering telepon di ujung malam, memaksaku bangkit dari peraduan. Kusingkapkan selimutku dan dengan menahan kantuk, kuangkat gagang telepon sembari memberi salam: “Halo, Selamat malam!” Terdengar derai tawa dengan intonasi suara baritone yang dalam & khas, dari ujung sana menjawab sapaanku. “Dug”, hatiku berdetak. Rasanya suara ini pernah akrab di telinga. Sekalipun ,sekian purnama tak pernah lagi terdengar. "Pikirku, engkau telah melupakan sahabat lama;" Sebuah pernyataan merajuk dalam penantian yg usang. "Lupakah engkau?" tanyaku, menampar ujung salamnya. Tak mau kalah ia berujar, “Sengaja, agar rasa kangen menumpuk, barulah diletuskan." Konyol! Sifatnya yang satu ini, sepertinya tak pernah hilang dari kehidupannya.

Tak terasa 9 tahun sudah jalinan persahabatan itu terajut dengan indah. Setelah dia menikah pun, jalinan persahabatan ini tak jua usai. Sosok bersahaja yang pernah kukenal. Penampilannya biasa-biasa saja. Akan tetapi tegas dalam mempertahankan prinsip dan setia serta teguh memegang janji. Itulah sifatnya yang sampai sekarang pengikat tali persahabatan kami. Sifat yang tak pudar dan tak lekang dimakan waktu. Jujur ku akui; dia adalah sahabat yang sangat ku kagumi.

Saat menyaksikan dirinya menjadi bintang tamu dalam berbagai talk show. Ketika ia wara-wiri menjadi pembicara baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Ketika ia berbagi ilmu dan pemikiran kepada berbagai kalangan, sering terlintas dalam benak, mungkinkah ia telah melupakan jalinan persahabatan ini? Hati menjadi gundah.

Kegundahan yang, sering membuatku diayun rasa bimbang. Kerisauan yang membuat rasa kantuk yang berat kutepis sekuatnya, lalu bangkit menguak jendela kamar.Cahaya bintang menjadi kemayu menyoroti wajahku yang pias oleh bermacam-macam perasaan. Serasa menjadi dungu. Kutatap langit malam, mencari makna. Seulas senyum kudapat dari bulan sabit yang bersinar dengan enggan. Seberkas sinar kelabu mengiringinya, melayari sepinya malam. Kerlap-kerlip bintang menyemarakkan suasana, namun hatiku tetap pilu, tak bersuka menyambut kehadiran mereka. Kalbuku tetap tak dapat diajak beria-ria. Aku semakin merasakan ngilu di relung hatiku. Mungkinkah bahtera persahabatan ini akan karam?

Namun, sapaannya yang akrab di ujung telepon, menjawab semua kekuatiran dan keraguanku. Kegundahanku terjawab sudah. Ia masih sahabatku yang dulu. Meskipun kehidupannya semakin mapan dan karirnya semakin matang, tidak membuatnya lupa kepada seorang sahabat. Ia tetap mengingatku sebagai sahabatnya, meskipun aku hanyalah bahagian dari akar rumput. Benar, ujar bijak Salomo: "Seorang sahbat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." Amsal 17:17. Ahh... selalu ada asa.

Kuarahkan bola mataku kembali ke atas kerlap-kerlip gemintang di langit. Sesaat kemudian, jendela kamar kututup. Dengan perlahan dan tenang aku berlutut menghadap Sang Khalik, seraya berucap: "Trimakasih Tuhan atas semua kasih sayang dan bimbinganMu. Trimakasih Tuhan untuk kehadiran seorang sahabat sejati. Amin"

~ Susunan dan Personalia

Susunan dan Personalia BPMK-Makassar gereja Toraja masa bakti 2007-2012

Ketua : Pdt. D. Y. Saranga, STh
Ketua I : Pnt. M. D. Tandira’pak, SH, MH
Ketua II : Pdt. Markus Lolo, MTh
Ketua III : Pnt. Ny. Ch. Sumule Malik
Sekretaris : Pnt. Drs. S. T. Madethen
Wakil Sekretaris : Pnt. Yulius Lobo, SH
Bendahara : Pnt. Ny. Yohana Tikupadang

Susunan dan Personalia BVMK-Makassar gereja Toraja masa bakti 2007-2012

Ketua : Pnt. Yulianus Sampe, SE, M.Si (Ak)
Sekretaris : Pnt. Mathius Nanthan, SH
Anggota : Pnt. Drs. J. L. Tikupadang
Sym. Anthonius Tangkeallo, SE
Pnt. Drs. Simon Pade

~ GBPP Klasis Makassar-Gereja Toraja 2008-2012

Lampiran Keputusan Persidangan Klasis Makasaar
Nomor : 09/Kep/PXLIIKM-GT/XI/2007


I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejalan dengan kemajuan atau keberhasilan pembangunan di segala bidang, kompleksitas kebutuhan atau tuntutan pembangunan juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kenyataan ini dihadapi oleh semua organisasi atau lembaga, baik yang kecil maupun yang besar, termasuk organisasi atau lembaga keagamaan. Hal ini mengindikasikan tentang pentingnya suatu perencanaan jangka panjang dan jangka menengah untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi yang ada dan sekaligus mengantisipasi hambatan-hambatan yang mungkin timbul dalam upaya pencapaian tujuan organisasi atau lembaga secara efektif. Pola kerja yang hanya berorientasi pada upaya penanggulangan masalah-masalah yang sudah dan atau sedang dihadapi, akan berimplikasi pada ketidakmampuan organisasi atau lembaga mengejar kebutuhan dan tuntutan pembangunan, sehingga tidak mungkin lagi dipertahankan.

Bertolak dari pemahaman tentang hal yang dimaksudkan di atas inilah maka sejak SSA XX di Rantelemo, telah disepakati tentang pentingnya Penyusunan Garis Besar Program Pengembangan Gereja Toraja yang disahkan pada setiap persidangan Sinode Am untuk dipedomani oleh semua penyelenggara aktivitas pelayanan dalam lingkup Gereja Toraja untuk lima tahun berikutnya. Kesepakatan ini telah ditidaklanjuti dalam SSA XXI dan SSA XXII, yang diharapkan juga diikuti oleh persidangan pada aras sinode wilayah (ketika masih ada), klasis dan Jemaat, mendahului awal masa bhakti pelaksana keputusan persidangan periode berikutnya.

Garis Besar Program Pengembangan Klasis Makassar Gereja Toraja (GBPP-KMGT) 2008-2012 ini disusun sebagai penjabaran atau tindak lanjut dari keputusan SSA XX, dengan memperhatikan perjalanan iman dan hasil analisis kondisi kekinian jemaat-jemaat se-Klasis Makassar selaku suatu persekutuan, serta tetap mengacu pada Garis Besar Program Pengembangan Gereja Toraja. GBPP-KMGT ini merupakan suatu konsep yang masih bersifat sangat umum, dan diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penyusunan program pelayanan Klasis Makassar untuk lima tahun ke depan, dan juga diharapkan dapat menjiwai penyusunan program pelayanan pada semua jemaat yang berada dalam lingkup Klasis Makassar.

B. Maksud

GBPP-KMGT dimaksudkan sebagai arah kebijakan program pengembangan Klasis Makassar Gereja Toraja 2008-2012 dan sebagi acuan bagi para pelaksana keputusan secara bersama-sama pada aras klasis ataupun secara sendiri-sendiri pada aras jemaat, agar keputusan-keputusan yang merupakan manifestasi dari kebersamaan dan kebersesamaan dapat diselenggarakan secara terkoordinasi, terpadu, utuh, dan menyeluruh.

C. Tujuan

Garis Besar Program Pengembangan Klasis Makassar Gereja Toraja 2008-2012 ini disusun di bawah sorotan Tema ’Berubahlah oleh Pembaruan Budimu’ dengan tujuan sebagai berikut :
1. Menetapkan landasan konseptual yang menghubungkan Garis Besar Program Pengem- bangan Gereja Toraja dengan praktek pelayanan jemaat-jemaat Gereja Toraja dalam lingkup Klasis Makassar, baik secara internal jemaat dan antar jemaat se-Klasis Makassar, maupun secara lintas Klasis se-Gereja Toraja ataupun lintas denominasi dan agama
2. Memelihara kesinambungan dan keserasian pelayanan Jemaat-Jemaat Gereja Toraja se-Klasis Makassar dalam rangka pencapaian tujuan pelayanan secara efektif dan efisien.
3. Menyiapkan acuan atau pedoman bagi penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi rencana kegiatan pelayanan Badan Pekerja Klasis, Unit Kerja dan jemaat-jemaat Gereja Toraja dalam lingkup Klasis Makassar untuk masa bhakti 2008-2012.


II. PERJALANAN IMAN WARGA GEREJA TORAJA SE-KLASIS MAKASSAR

A. Selintas tentang Jemaat Cikal Bakal Klasis Makassar

Resort Pelayanan
Makassar ditetapkan sebagai salah satu wilayah pelayanan Konferensi Para Zendeling dan berada di bawah resort pelayanan Ma’kale-Sangalla’, sejak 1928 (Pdt. A. J. Anggui dalam Majalah Sulo tahun 2006). Hal itu didasarkan pada adanya permintaan dari Perserikatan Toraja di Makassar yang sudah sering mengadakan kebaktian keluarga Toraja, walaupun belum teratur secara periodik. Pada bulan Oktober 1928, Ds D.J.van Dijk sudah melayani Baptisan dan Perjamuan Kudus di kalangan orang-orang Toraja yang ada di Makassar. Pada tahun 1928 itu, pertemuan-pertemuan berkala sudah diadakan pada setiap hari Selasa malam di rumah seorang anggota pengurus yakni P.Ruruk, seorang juru tulis pada Kepolisian di Makassar. Rumah yang ia tempati terletak di 2 deRenggang weg. Pertemuan hari Selasa malam sering dilayani oleh J.F.Pelupassy, seorang pendeta bantu dari Gereja Protestan di Makassar. Beliau juga mengajarkan katekisasi, karena banyak anggota kristen yang sudah menerima baptisan kudus namun belum memperoleh pemahaman yang cukup tentang iman kristen.

Perserikatan Toraja
Dari daftar anggota Perserikatan Toraja yang dilampirkan pada surat yang dikirim oleh Pengurus ke Konferensi Zendeling di Rantepao pada bulan Juni 1929, ternyata bahwa yang terdaftar sudah 241 orang, baik laki-laki maupun perempuan. Daerah asal mereka yang tercatat adalah Rantepao, Mamasa, Suppiran, Ranteballa, Makale. Dari segi agama, ada yang Protestan, Katolik, dan Islam. Dari segi pekerjaan, tercatat antara lain guru, anggota polisi, jongos, babu, tukang, sopir, opas, dan mandor.

Surat edaran yang dikeluarkan mereka bulan Juni 1929 ditandatangani oleh P. Ruruk asal Makale, K.Kadang asal Rantepao, Benyamin asal Makale, K.Kasewa asal Mamasa, A.S.Turu asal Ranteballa. (Dari tanda tangannya, jelas terbaca A. Situru). Surat edaran mereka tidak hanya ditujukan kepada para zendeling tetapi juga kepada parengnge’-parengnge’ dan para pemimpin masyarakat lainnya di daerah asal mereka. Mereka meminta agar mereka dibantu membeli atau membangun sebuah rumah yang berfungsi, “Passanggrahan dan Perhimpunan Orang-orang Toraja Kristen”. Maksud pengadaan passanggrahan tersebut adalah sebagai rumah transit bagi mereka yang baru tiba di Makassar, karena banyak di antara mereka yang datang di Makassar tetapi belum tahu mau tinggal dimana.

Dukungan Pendanaan
Keinginan mereka itu mendapat sambutan yang baik dilihat dari daftar penyumbang. Dari 47 penyumbang, terdapat nama-nama antara lain Zending Mamasa, Zending Rantepao-Makale, Puang Sangngalla’, Puang Ma’kale, Parengnge’ Talion, Parengnge’ Nanggala, Perengnge’ Pangngala’, Parengnge’ Kesu’, dan lain-lain. Mulai awal tahun 1929, Zending Mamasa dan Zending di Makale dan Rantepao telah menyepakati bahwa pelayanan di kalangan orang-orang Toraja di Makassar dilayani bersama. Biaya yang bersangkut-paut dengan pelayanan itu dua pertiganya ditanggung oleh Zending dari Makale dan Rantepao dan sepertiganya oleh zending Mamasa (Ds.A.Bikker). Selain itu, biaya juga disumbangkan secara teratur oleh Gereja Protestan di Makassar dan zendling yang melayani di Poso.

Seorang tenaga guru asal Maluku ditempatkan oleh Konferensi Zendeling (GZB) di Makassar atas usul Ds.A.Bikker yakni guru A.Siahainenia yang dimutasi dari Uluwai. Guru A.Siahainenia melayani sebagai guru Injil di Makassar sampai dengan tahun 1935. Pelayanan kependetaan dipercayakan kepada Ds.A.Bikker dari Mamasa. Kerja sama antara kedua Badan Zending ini berlangsung sampai tahun 1955, dalam bentuk jemaat Gereja Toraja Makassar. Pada tahun 1955, sebahagian besar warga Gereja Toraja Makassar yang berasal dari Mamasa mendirikan jemaat sendiri yang berlokasi di jalan Gunung Salahutu dan bergabung pada Gereja Toraja Mamasa.

Pentahbisan Rumah
Dalam hal mencari lokasi di Makassar, diadakan pertemuan di rumah P.Ruruk yang beralamat di 2 de Renggang weg (Kampung Pisang) pada 29 Juli 1929 yang dihadiri sekitar seratus orang bersama Ds.A.Bikker. Mereka menginginkan agar lokasi pembangunan tetap di Kampung Pisang dan kalau dapat di tempat P.Ruruk tinggal. Lokasi dan rumah tersebut bukan kepunyaan P.Ruruk, melainkan kepunyaan Martodirejo yang disewa oleh P.Ruruk.

Pada 27 Januari 1930, rumah tersebut dibeli bersama lokasi yang merupakan tanah negara (erfpacht) seharga f 650,- yang dibayar dari hasil sumbangan berbagai pihak melalui les. Pembangunan Gedung Pertemuan dan Passangrahan dimulai pada Januari 1931 dan ditahbiskan pada hari Senin, 1 Juni 1931. Pentahbisan dihadiri oleh utusan-utusan zendeling yang baru selesai mengadakan rapat luar biasa tanggal 29 Mei 1931 dari Dewan Zendeling Makassar yang dibentuk tanggal 24-27 Maret 1931. Dewan Zendeling Makassar ini beranggotakan Badan-badan Zending yang melayani di Posos, Kolaka, Mamasa, Makale-Rantepao, Sumba, Timor, Donggal (Bala Keselamatan), Gereja Protestan Makassar dan pada 29 Mei 1931 bergabung juga Kemah Injil dan Gereja Gereformeerd dari jemaat Surabaya.

Dalam acara penahbisan Torajahuis (Rumah Toraja) pada 1 Juni 1931 tersebut para utusan Zendeling GZB menyumbangkan ukiran-ukiran Toraja yang kemudian diuangkan melalui lelang, membantu biaya pembangunan rumah tersebut.

Fasilitas Transit
Nama rumah Passanggarahan dan Perhimpunan Toraja itu kemudian hari lebih dikenal sebagai “Banua Porimpunganna Toraya” (dialek Mamasa) yang bergabung dengan gedung gereja Maros sampai dengan tahun 1951 dan telah merupakan rumah kos dan rumah transit dari banyak orang Toraja yang datang atau berstudi di Makassar antara lain Pdt.J.Lebang, Ulia Salurapa’, dan Masallo’ Sarungallo.

Pemekaran Jemaat dan Pembentukan KUK Makassar
Atas desakan anggota-anggota jemaat, Majelis Gereja Toraja Makassar mengadakan rapat pleno pada tanggal 28 Februari- 2 Maret 1964 dengan keputusan memekarkan Gereja Toraja Makassar menjadi tiga jemaat yaitu:
a. Gereja Toraja Jemaat Makassar bahagian Utara dengan gembala Bpk B.D.Bijang, S.Th
b. Gereja Toraja Jemaat Makassar bahagian Tengah dengan gembala Bpk Ds. J.Sumbung dan Bpk J.Matana
c. Gereja Toraja Jemaat Makassar bahagian Selatan dengan gembala Bpk Ds.D.Siahaija dan Bpk J.Tanga
Walaupun sudah terbagi tiga jeamat, namun pengelolaan keuangan dan administrasi masih terpusat di Gereja Toraja Makassar di jalan Gunung Bawakaraeng No.17. Demikian juga kemajelisan masih menggunakan nama Majelis Gereja Toraja Makassar.

Pada tanggal 21 Agustus 1964, Majelis Gereja Toraja Makassar melaksanakan rapat pleno dengan keputusan :
a. Membentuk badan yang disebut KOMISI USAHA KLASIS MAKASSAR (KUK) Makassar dengan tugas : mengkoordinir ketiga jemaat, mengawasi keuangan, dan mewakili ketiga jemaat untuk urusan-urusan keluar.
Personalia KUK-Makassar adalah sebagai berikut :
Ketua I : Ds.D.Siahaija
Ketua II : B.D.Bijang, S.Th.
Sekretaris I : Ds.J.T.Manapa, S.Th.
Sekretaris II : M.C.Rawung
Bendahara : J.T.Layuk Allo
Anggota : Ds.J.Matana dan D.Tanga
Tatausaha : J.Tangdibali
b. Cabang Kebaktian di Batua (Tello) dan Daya, Asrama Jon. 700 RIT termasuk wilayah pelayanan Gereja Toraja Jemaat Bahagian Utara.
c. Pdt. J. Matana diutus melayani anggota Jemaat Kristen Tonasa, dan juga warga jemaat luar kota bahagian timur lainnya (Maros, Pangkep, Tjamba dan sekitarnya)
d. Pdt. D. Tanga melayani jemaat luar kota bahagian selatan.

B. Dari Persidangan ke Persidangan (lihat hal 50-61 buku himpunan keputusan)

III. ANALISIS KONTEKS KEKINIAN KLASIS MAKASSAR

Klasis Makassar saat ini (akhir Tahun 2007) memiliki anggota sekitar 6.000 Kepala Keluarga dan lebih dari 32.000 jiwa, yang terhimpun dalam 26 Jemat dan menyebar di lima wilayah administrasi kabupaten / kota. Dengan jumlah anggota sebanyak ini, Klasis Makassar merupakan klasis terbesar diantara 80 klasis yang ada dalam lingkup pelayanan Gereja Toraja. Selain itu, pusat pelayanan Klasis Makassar, yaitu Kota Makassar, yang adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dan segaligus merupakan pusat pelayanan Kawasan Timur Indonesia, memiliki posisi strategis sebagai daerah transit bagi warga Gereja Toraja yang mau bepergian meninggalkan Tana Toraja untuk berbagai tujuan, dan juga bagi mereka yang akan kembali ke Tana Toraja, baik karena tugas, liburan dan tujuan-tujuan yang bersifat temporer lainnya maupun bagi mereka ingin menghabiskan hari tuanya di Tanah Toraja.

Selaku klasis terbesar dengan pusat pelayanan yang memiliki lokasi strategis, Klasis Makassar selama ini telah berperan sebagai salah satu pendukung utama aktivitas pelayanan Gereja Toraja, baik secara langsung mapun tidak langsung. Untuk masa mendatang peran ini diharapkan dapat berlanjut atau jika mungkin lebih ditingkatkan lagi. Dengan pertolongan Sang Kepala Geraja, kesinambungan dan atau peningkatan peran termaksud sangat mungkin diwujudnyatakan, melalui peningkatan penghayatan seluruh warga Gereja Toraja dalam lingkup Klasis Makassar tentang hakekat warga gereja dan jemaat sebagai anggota Tubuh Kristus. Hanya melalui peningkatan penghayatan tentang hakekatnya, kebersaman dan kebersesamaan warga gereja dan jemaat-jemaat akan dapat ditumbuhkembangkan yang dinampakkan melalui tindakan-tindakan nyata untuk saling memperlengkapi atau saling memberdayakan dalam pelaksanaan misi dan tugas panggilan gereja.

Untuk mewujud-nyatakan hal-hal yang telah dikemukakan di atas, segenap warga Gereja Toraja dalam lingkup pelayanan Klasis Makassar perlu memahami talenta atau potensinya, serta peluang dan tantangan yang diperhadapkan oleh lingkungannya. Selanjutnya, berdasarkan pemahaman tentang potensi beserta peluang dan tantangan tersebut, dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan dan program-program pendayagunaan potensi dan peluang yang ada yang diharapkan dapat bermuara pada terbangunnya kebersamaan dan kebersesamaan guna terwujudnya keutuhan Tubuh Kristus yang membawa damai sejahtera bagi semua.
Berikut ini disajikan. secara garis besar, hasil identifikasi potensi (kekuatan dan kelemahan), dan kondisi lingkungan (peluang dan tantangan) Klasis Makassar.

A. KEKUATAN DAN KELEMAHAN

1. Warga Gereja Toraja
Kekuatan

1. Jumlah anggota yang banyak dan menyebar
2. Meningkatnya minat sebagian warga jemaat mengikuti kegiatan pembinaan
3. Sejumlah warga gereja yg memiliki potensi/kemampuan telah memperli-hatkan komitmennya untuk mendu-kung program-program pembangunan
4. SDM warga gereja terus mengalami peningkatan dan menempati posisi strategik dalam masyarakat
5. Warga jemaat semakin majemuk dalam berbagai aspek
6. Kegairahan warga jemaat dlm meng-hadiri ibadah-ibadah secara umum semakin meningkat
7. Warga muda dlm jemaat (anak-anak, remaja, dan pemuda) merupakan bagian terbesar

Kelemahan
1. Database jemaat-jemaat belum tergarap secara optimal
2. Program PWG (pembinaan SDM) belum / masih kurang memadai
3. Terdapatnya sejumlah besar potensi warga yang belum dikelola dan didayagunakan secara optimal bagi pengembangan jemaat yang misioner
4. Moralitas, spiritualitas, dan etos kerja belum berkembang secara optimal
5. Kemampuan menghargai perbedaan masih terbatas sehingga perbedaan-perbedaan yang ada potensial menjadi sumber konflik
6. Pemahaman dan penghayatan isi Alkitab kurang memadai dan belum merata
Ada kesenjangan antara ibadah ritual dengan praktik hidup sehari-hari
7. Pola pelayanan yang dikembangkan belum sepenuh-nya menjawab kebutuhan warga muda gereja.

2. Konsepsi dan Tradisi

Kekuatan
1. Gereja Toraja telah memiliki rumusan PGT dan TGT sebagai pedoman kehidupan bergereja
2. Keyakinan akan kepastian kese-lamatan
3. Kuatnya ikatan kultural antar warga jemaat
4. Keterlibatan dalam gerakan eku-menis tetap konsisten

Kelemahan
1. Pemahaman PGT dan TGT warga jemaat belum merata sehingga pemaknaan dan penerapannya oleh sebagian warga jemaat terkadang kurang tepat
2. Pola kehidupan eksklusifisme cenderung berkem-bangkan pada sebagian warga jemaat / jemaat
3. Ikatan kultural belum dimanfaatkan secara optimal dalam membangun persekutuan, kesaksian, dan pela-yanan gereja (transformasi)
4. Pemahaman sebagian warga jemaat tentang denominasi (aliran) lain belum optimal

3. Pelayan dan Kepemimpinan

Kekuatan 1. Jumlah tenaga pelayan cukup besar
2. Potensi Majelis Gereja cukup beragam dan dapat saling melengkapi dalam mendukung pelayanan
3. Tingginya komitmen pengurus OIG mendukung pelayanan
4. Sebagian besar pendeta Gereja Toraja masih berusia muda
5. Meningkatnya jumlah warga jemaat yang bersedia menjadi anggota majelis gereja
6. Cukup banyak tenaga muda yang potensial menjadi pemimpin

Kelemahan
1. Sebagian pelayan gerejawi belum memperlihatkan keteladanan dan komitmen secara maksimal
- Sebagian khotbah belum kontektual
- Pelayanan pastoral masih kurang mendapat perhatian
- Kurangnya semangat meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan
2. Keragaman potensi Majelis Gereja belum dikelola secara maksimal
3. Kurangnya tenaga pelayan /pemimpin yang memberi diri untuk pelayanan /pembinaan OIG
4. Ada kecenderungan kurang mampu memper­lihatkan perilaku keterpanggilan dan kepelayanan
- Rendahnya kemampuan pengendalian diri pada sebagian pelayan
5. Kurang pemahaman tentang ‘panggilan sebagai pelayan’, sehingga sebagian majelis gereja lebih memaknai kemajelisan sebagai simbol status sosial
- Sebagian majelis gereja kurang memperlihatkan spiritualitas keteladanan
6. Program-program pengembangan SDM muda belum memadai

4. Organisasi dan Kelembagaan

Kekuatan
1. Jumlah jemaat tergolong besar, yaitu 26 jemaat 2. Sejumlah produk keputusan tentang kehidupan bergereja dan berjemaat telah ditetapkan secara bersama-samal
3. Badan Pelaksana telah didukung oleh sejumlah unit kerja dengan personil-personil yang sebenarnya cukup potensil
4. Tersedia lembaga pendidikan dan lembaga pelayanan kesehatan yang berada pada lokasi strategis
5. Adanya OIG sebagai wadah pelayanan kategorial 6. Telah adanya Komisi Pengembangan Informasi dan Komunikasi

Kelemahan
1. Cenderung berkembangnya egoisme dan prilaku eks-klusivisme pada sebagian jemaat
- Terdapatnya jemaat-jemaat yang secara permanent tidak bisa mandiri dalam ketenagaan dan pendanaan
2. Belum dilaksanakannya secara optimal sejumlah keputusan oleh jemaat-jemat
3. Sebagian unit kerja belum berperan / berfungsi secara optimal
4. Masih rendahnya appressiasi warga jemaat terhadap milik sendiri
5. Pelayanan dan pembinaan kategorial blm terlaksana secara konseptual, terintegrasi dan berkesinambungan
6. Komunikasi dan pertukaran informasi antar-jemaat belum berjalan secara optimal

5. Aset, Keuangan dan Fasilitas

Kekuatan
1. Memiliki sejumlah aset, baik berupa warisan maupun hasil pengembangan jemaat / badan / lembaga
2. Persembahan warga jemaat semakin meningkat 3. Kemampuan keuangan sebagian jemaat besar sudah dapat membiayai aktivitas pelayanannya 4.Tersedia gedung yang dapat dijadikan pusat pelayanan dan pembinaan

Kelemahan
1. Belum semua aset dimanfaatkan secara maksimal ,...
2. Belum adanya Petunjuk Teknis Pengelolaan Keuangan Jemaat
- Masih rendahnya (kurang tepatnya) pemahaman sebagian warga (termasuk majelis gereja) tentang makna persembahan termasuk pemberian jaminan hidup dan fasilitas yang layak kepada pendetanya 3. Kemampuan keuangan beberapa jemaat belum dapat membiayai aktivitas pelayanannya 4. Pengelolaan belum optimal
- Sarana pendukung belum memadai
- Minat warga untuk memanfaatkan sKemampuan keuangan sebagian jemaat besar sudah dapat membiayai aktivitas pelayanannya
arana ini masih sangat kurang

B. PELUANG DAN TANTANGAN

1. Aras Lokal
Peluang 1.Pusat pelayanan KM-GT berlokasi di Ibukota Provinsi, yang menawarkan berbagai kemudaan dalam mengakses informasi
2.Tersedianya berbagai prasarana dan sarana pengembangan SDM
3.Tersedianya SDM Pembina pada hampir semua bidang
4.Pluralitas masyarakat setempat yang merupakan lingkungan strategis untuk bersaksi dan melayani
Tantangan
1. Tidak semua informasi yang dapat diperoleh berdampak positif pada pembangunan jemaat dan masyarakat
2. Belum tersedia data yang akurat tentang kondisi sarana-prasarana, dan belum terjalin kondinasi yang baik dengan para pengelola sarana-prasarana
3. Belum tersedia data yang akurat tentang spesialisasi dan spssifikasi tentang SDM pembina
4. Warga Jemaat di sejumlah tempat mengalami hambatan dalam memperoleh izin membangun Rumah Ibadah
Adanya beberapa denominasi yang proaktif mem-pengaruhi anggota GT untuk berpindah gereja
2. Aras Nasional
Peluang 1. Semakin terciptanya ikim demokrasi yg membuka kesempatan bagi setiap warga negara untuk berpendapat dan berperanserta dalam pembagunan
2. Otonomi daerah memberi peluang untuk pengembangan potensi daerah secara maksimal 3. Reformasi telah menyadarkan semua pihak tentang ekses dan dampak buruk korupsi, kolusi, dan nepotisme
4. Kemajuan teknologi komunikasi informasi dpt memudahkan interaksi antarmanusia
5. Semakin lancarnya transportasi dan mobilisasi penduduk
6. Sumber Daya Alam cukup tersedia
7. Kemajemukan etnis, budaya, agama, ras, dan golongan memperkaya kehidupan bersama
8. Dasar negara Pancasila yang menjamin kelangsungan NKRI
Tantangan

1. Mengemukanya anarkisme, premanisme, dan radikalisme
2. Suburnya primordialisme, sukuisme, fanatisme daerah
- Menipisnya semangat nasionalisme
- Dikhotomi penduduk asli-pendatang
3. Kebebasan yang tidak terkendali
4. Berubahnya nilai-nilai yg menimbulkan krisis identitas
- Menipisnya relasi antarpersonal
- Makin canggihnya modus kejahatan
- Makin beragam dan meningkatnya dampak negatif media
- Maraknya penyalahgunaan NAPZA dan maraknya praktik seks bebas
5. Rentan konflik sosial
- Meluasnya kejahatan pengedaran NAPZA (Narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat-zat adiktif lainnya)
6. Eksploitasi Sumber Daya Alam tak terkendali
- Eko sistem terganggu
7. Dikhotomi mayoritas-minoritas
- Terganggunya hubungan antarkomponen bangsa
8. Lahirnya sejumlah peraturan perundang-undangan yang sektarian dan diskriminatif


3. Aras Global
Peluang 1. Globalisasi menawarkan banyak pilihan, kebebasan berkreasi, dan peluang berkompetisi
2. Terbuka kesempatan yang semakin luas untuk mengembangkan SDM 3. Arus informasi melalui wahana dan sarana komunikasi yang canggih menyu-guhkan berbagai informasi 4. Berkembangnya budaya global 5. Dominasi paradigma ekonomi pasar 6. Proses demokratisasi semakin berkembang 7. Transformasi sosial
Tantangan
1. Rumitnya pilihan yang diperhadapkan sehingga sulit memilih secara tepat
- Cepatnya perubahan dan perkembangan IPTEK yang melemahkan semangat berkreasi
- Tampilnya pesaing-pesaing yang lebih hebat
2. Persaingan semakin ketat
3. Arus informasi begitu kompleks dan cepat sehingga perlu kemampuan menyaring informasi yang bermanfaat
4. Krisis identitas
5. Berkembangnya pola hidup konsumtif, materialistis, dan individualistis
- Proses pemiskinan kelompok lemah
6. Berkembangnya sikap anarkhis
7. Suburnya sikap fundamentalis

C. ISU-ISU STRATEGIK
Berdasarkan analisis di atas, maka isu-isu stratejik yang perlu dijabarkan dalam bentuk program untuk pengembangan Klasis Makassar Gereja Toraja 2008-2012 adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan / Pembaharuan Ibadah dan Spiritualitas
2 Pembinaan WJ dan Pengembangan Peran Kebangsaan
3 Pembinaan OIG / GM dan Pembudayaan Eika Kristen
4. Pengembangan Kerjasama lintas jemaat, dan lintas klasis
5. Pengembangan Kerjasama lintas denominasi dan lintas agama (Ekuminisme dan Pluralisme)
6. Pemberdayaan ekonomi WJ / WM
7. Pengembangan Pendidikan dan Kualitas SDM
8. Pengembangan Pelayanan Sosial / Kesehatan
9. Pengelolaan lingkungan hidup
10. Pengamanan Aset Gereja, Pengembangan Sarana Prasana dan Penatalayan
Isu-isu strategik ini diharapkan dapat menjiwai penyusunan dan pelaksanaan program-program pelayanan jemaat-jemaat dalam lingkup Klasis Makassar, baik secara sendiri-sendiri dalam lingkup jemaat masing-masing maupun dalam perwujudan kebersamaan dan kebersesamaan pada aras klasis dan sinode.

IV. PENGORGANISASIAN PROGRAM
A. Program Induk dan Program Utama
Pengorganisasian Program Gereja Toraja yang juga identik dengan Struktur Organisasi Gereja Toraja pada tingkat Sinode, dari waktu ke waktu mengalami perubahan sebagai perwujudan perkembangan pemikiran dalam Gereja Toraja. Tiap pembidangan dilatarbelakangi oleh konteks kebutuhan kontemporer Gereja Toraja.
Dalam SSA yang terakhir, yaitu SSA XXII, pembidangan Program Gereja Toraja yang tertuang dalam Garis Besar Program Pengembangan Gereja Toraja 2006-2011, adalah sebagai berikut :
1. Bidang Pembinaan Warga Gereja dan Pekabaran Injil
2. Bidang Teologi Ketenagaan dan Kegerejaan .
3. Bidang Parpem (Partisipasi Gereja dalam Pembangunan Masyarakat, Bangsa, dan Negara) (mencakupi bidang pengembangan penatalayanan)
Program pengembangan Klasis Makassar 2008-20012, diracang dengan mengacu pada pengorganisasian di atas dengan sedikit modifikasi yaitu dengan memisahkan Bidang Pengembangan Penatalayanan (Kesekretariatan) dari Bidang Parpem. Dengan demikian Program Pengembangan Klasis Makassar 2008-2012 mengikuti pola pembidangan sebagai berikut :
1. Bidang Pembinaan Warga Gereja dan Pekabaran Injil
2. Bidang Pengembangan Teologi Ketenagaan dan Kegerejaan
3. Bidang Pengembangan Parpem (Partisipasi Gereja dalam Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat)
4. Bidang Pengembangan Penatalayanan (Kesekretariatan)
Program-Program dalam setiap bidang tersebut di atas tergabung dalam satu Program Induk (PI). Selanjutnya, setiap Program Induk terdiri atas beberapa Program Utama (PU), dengan perincian selengkapnya sebagai berikut :
1. PI Pembinaan Warga Gereja dan Pekabaran Injil meliputi PU :
1.1 Pengembangan / Pembaharuan Ibadah dan Spiritualitas
1.2 Pembinaan WJ dan Pengembangan Peran Kebangsaan
1.3 Pembinaan GM/OIG dan Pembudayaan Etika Kristen
1.4 Pengembangan Kerjasama antar-Jemaat dalam Klasis Makassar
2. PI Pengembangan Teologi, ketenagaan, dan kegerejaan meliputi PU :
2.1 Pengembangan Kapasitas Pelayan / MG
2.2 Pengembangan Kerjasama Lintas Klasis
2.3 Pengembangan Hubungan Antar-Denominasi (Pengelolaan Peran Ekumenis)
2.4 Pengembangan Hubungan Antar-Agama (Pengelolaan Pluralitas)
3. PI Parpem (Penegembangan Partisipasi Gereja dalam Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat), meliputi PU :
3.1 Pemberdayaan ekonomi WJ / WM
3.2 Pengembangan Pendidikan dan Kualitas SDM
3.3 Pengembangan Pelayanan Kesehatan / Pemberdayaan Sosial
3.4 Pengelolaan lingkungan hidup
4. Program Induk Pengembangan Penatalayanan meliputi PU :
4.1. Pengembangan Kapasitas Pengerja Gereja
4.2. Pengamanan Aset Gereja
4.2. Pengembembangan Sarana Prasana
4.4. Pengembangan Informasi dan Komunikasi
Program-porgram kegiatan untuk masing-masing Program utama antala lain tersaji pada tabel berikut ini.
Alternatif kegiatan untuk masing-masing Program Utama (Lihat buku kumpulan keputusan, hal 68-69)

V. PENUTUP

A. Rekomendasi Keberlanjutan Program
Garis Besar Program Pengembangan Klasis Makassar (GBPP-KMGT) 2008-2012 ini, perlu dijabarkan lebih lanjut kedalam program-program tahunan yang memuat uraian kegiatan secara lebih rinci oleh Pengurus BPK Makassar yang terpilih melalui Sidang Klasis Makassar ke-42. Penyusunan Program termaksud hendaknya tetap menjaga kesinambungan program atau keberlanjutan aktivitas pelayanan yang selama ini telah berlangsung dalam lingkup Klasis Makassar pada khususnya dan dalam lingkup Gereja Toraja pada umumnya.

GBPP-KMGT ini juga diharapkan menjadi acuan dalam penyusunan program pelayanan di semuan jemaat Gereja Toraja dalam lingkup Klasis Makassar dengan memperhatikan kondisi dan prioritas kebutuhan masing-masing jemaat, tetapi tanpa harus mengabaikan kepentingan pada aras klasis dan sinode sebagai pencerminan kebersamaan dan kebersesamaan dalam rangka mewujudkan Tubuh Kristus yang utuh.

B. Usulan Komposisi Pengurus BPK Makassar 2008-2012
Berdasarkan GBPP Klasis Makassar 2008-2012, maka Komposisi Pengurus BPK Makassar Gereja Toraja yang dinilai dapat mendukung pelaksanaan keseluruhan Program Pengembangan Klasis Makassar secara efektif adalah sebagai berikut :
1. Ketua, penanggung jawab pelaksanaan seluruh program pengembangan Klasis Makassar Penuh waktu
2. Ketua I, mengkordinir pelaksanaan program Bidang PWG & PI Paruh waktu
3. Ketua II, mengkordinir pelaksanaan program Bidang Teologi, Ketenagaan, dan Kegerejaan, Paruh waktu
4. Ketua III, mengkordinir pelaksanaan program Bidang Partisipasi Gereja dalam Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Paruh waktu
5. Sekretaris (Paruh waktu), mengkordinir program Bidang Penatalayanan, Paruh waktu
6. Wakil Sekretaris, sekaligus berperan sebagai Tata Usaha Kantor BPK, Penuh waktu
7. Bendahara Paruh waktu


Makassar, 10 Oktober 2007
TP3GT Klasis Makassar
Ketua , Sekretaris,


Pnt. Prof. Dr. Daud Malamassam; Pnt. Markus Palimbong, SH.

Mengetahui
Ketua BPK Makassar,


Pdt. P. Manganan, S.Th.