"Pergumulan tidak akan pernah sirna, akan tetapi HARAPAN selalu menguatkan manusia untuk menata hidup yang lebih baik."

Terimakasih atas kunjungan anda.

Halaman

~ Pulang

By : Titi Yuliaty


1 Agustus 2008
Pagi-pagi benar aku bangun dan membangunkan cahaya hatiku, sebab pesawat SQ yang akan membawa kami ke Jakarta berangkat pukul 07.00. Setelah beres-beres, kutinggalkan sepucuk surat untuk Uncle Chan, ucapan trimaksih atas kepedulian beliau selama kami tinggal di rumahnya
Akhirnya tiba di Cengkareng. Legah rasanya, setelah 45 hari di negri orang dengan pergumulan yang sangat berat. Kuhirup dalam-dalam udara kota Jakarta, sekalipun aku tahu polusi di ibukota negaraku ini amat tinggi. Kami lalu meluncur ke IBIS Kemayoran, sebab sore nanti rencana uikut ibadah syukur di rumah saudara.

2 Agustus 2008
Setelah sarapan dan minum obat bagi cahaya hatiku, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke Mangga dua. Beberapa pesanan harus dibeli.
12.30
Menuju Bandara Sukarno Hatta
18.30
Tiba di Makassar, kota tempatku berkarya. Alangkah bahagianya, setelah kurang lebih 2 bulan kutinggalkan untuk mendampingi cahaya hatiku dalam perawatan, mengharubiru perasaanku kala menginjakkan kaki kembali bersama dengan cahaya hatiku. Sungguh suatu sukacita yang luar biasa. Sebentar lagi aku kan bertemu kembali dengan dua cahaya hatiku yang kutinggalkan kurang lebih 2 bulan mendampingi kakaknya dalam perawatan. Terbayang di wajahku, senyum ceria mereka menyambut kedatanganku. Aku akan memeluk dan mendekap mereka erat-erat. Aku ingin mereka tahu betapa akupun sangat merindukan mereka.
Mobil yang menjemputku merangkak perlahan meninggalkan bandara Hasanuddin. Dalam perjalanan kusampaikan berita ini kepada rekan kerjaku. Dengan sukacita mereka mengundang "rombongan kecilku" untuk mampir sejenak di Jagung Bakar 31 yang kebetulan masih ramai, sebab baru saja acara perpisahan Kepala LAI-Cab Makassar usai. Ah, suatu kepedulian yang luar biasa dari rekan-rekan Majelis Jemaat di jemaat tempat aku melayani ini. Bak seorang anak yang “hilang” dan “kembali”, disambut dengan penuh kasih dan cinta, dijamu dengan sukacita. Terimakasih ibu, trimakasih bapak, trimakasih sahabat, trimakasih saudara, trimakasih semuanya
19.00
Tiba jua di rumah. Dari dalam mobil kulihat si kecilku berdiri di depan pintu menatap penuh harap. Kubuka pintu mobil ini, dan perlahan-lahan kuayunkan langkah kaki ini mendekati mereka. Rasa rindu tak kuasa kubendung lagi, mereka menghambur ke pelukanku. Gadis kecilku hanya mampu berucap, “Mami”; sembari menatapku berlama-lama, lalu menghambur kembali ke dalam pelukanku. Aku tahu betapa mereka pun sangat merindukanku, akan tetapi juga tahu bahwa kepergianku sekian lama adalah untuk mendampingi kakaknya yang sakit. Kepeluk mereka erat-erat, kutumpahkan semua rinduku , serasa tak ingin melepas mereka lagi. Kuhabiskan malam ini bersama ke-4 cahaya hatiku dengan penuh syukur, betapa mereka tetap aman dalam dekapan kasihNya.

3 Agustus 2008
Untuk pertama kali aku beribadah Minggu di jemaat ini, setelah 2 bulan praktis sama sekali tak melakukan aktivitas “pelayanan”. Perjamuan Kudus dipimpin oleh rekan kerjaku. Beberapa hal “baru” dalam berliturgi mulai nampak diterapkan. Pikirku, mungkin hasil seminar liturgi yang dilaksanakan awal Juni yang lalu. Sebagai ketua Tim, aku bersyukur dan merasa “bangga”. Sekalipun tidak dapat mengikuti seminar ini, akan tetapi hasil dan buahnya dapat kunikmati. Tak sia-sialah Pdt. Rasid Rachman dan Pdt. Tikurari menjadi fasilitator.

~ SMS-SMS Menguatkan

By : Titi Yuliaty
Banyak cara yangg dilakukan oleh para sahabat, handai taulan dan keluarga dalam mewujudkan kepedulian, cinta kasih dan perhatian mereka kepada kami kala dalam pergumulan ini. Salah satunya adalah dengan mengirim sms. Selain bertanya soal perkembangan cahaya hatiku, mendokan dan juga memotivasi kami untuk tetap “kuat”. Berikut beberapa sms yg dikirim / diforward kepadaku, kiranya juga memotivasi sipapun yang sedang dalam pertgumulan sepertiku:


* TUHAN memberimu pLangi di stiap badai, senyum di stiap air mata, berkat di stiap Cobaan, Lagu indah di stiap helaian nafas n jawaban di stiap doa.

* Suka duka menimbulkan ketekunan, ketekunan mendatangkan ketahanan, ketahanan melahirkan pengharapan dan pengharapan terlebih kepada Allah tak mengecewakan. Apapun pergumulanmu itu adalah kendaraan untuk mencapai anugrah Allah.

* SaaT hatimu brgelut bmbng n ragu ttplah Trsnyum, saaT htmu gelisah n kwatir ingatlah bhwa DIA ada untukmu dan SaaT hatimu sunyi, sedih, kcw dan terluka ketahuilah bhw DIA adalh k@wan Sejati yg slalu ada untukmu n yg mmpu mmbwtmu Tersenyun b Brkarya

* Seikat Iman Akn Menghadirkan Mujizat. Seikat Harapan M’buat Penantian Yg Panjang Terasa Dekat. Seikat Kasih Membwa Pemulihan yg Indah Dlm Hidup. Seikat Sukacita M’nghadiahkan Tawa &Bhgia. Seikat ketekunan M’beri Akhir Yg Sempurna.

Dlm klelahan kt, Tuhan mjanjix istrht. Dlm klemahan kt, Tuhan mjanjix kkuatan. Dlm kkurangan kt, Tuhan menjanjix kepenuhan berkat.

* Pad4 saat badai menerpa, mungkin Dia tiDak Men9hentikan Badai itu, Tapi Dia memegang tanganmu erat, bahkaN memelKmu samapai BaDai itu berlalu. Smg anak ibu lekas sembuh Tuhan yesus memeberkati sll

* Anugrah hidup kekal sebagai wujud dari pembaharuan yg dikaryakan Allah tdk dapat diperoleh karena usaha atau karena upah.

* Hati yang selalu bersyukur akan diwarnai dengan senyuman sehingga beban yang berat akan akan terasa ringan. Bukan karena ia kuat tapi karena ada Allah yang menopangnya.

* Kesabaran bukan hanya diam ketika diperlaakukan secara tidak adil ttp tetap bersyukur dan memberkati meskipun dikecewakan dan disakiti sambil tetap beriman

* Setiap alami kegagalan, cobalah lagi perbaiki sebisa mungkin berlatilah dan hindarkan diri dari kekuatiran, sebab kekuatiran tidak pernah memperbaiki sesuatu.

* Aku minta kepada Tuhan setangkai bunga segar, tetapi Ia memberi kaktus jelek dan berduri. Aku minta kupu-kupu….. tetapi justru diberi ulat
Aku kecewa dan sedih. Ttp beberapa hari kemudian kaktus itu berbunga indah sekali. Ulat itu menjadi kupu-kupu yg cantik. “ITULAH JALAN TUHAN SELALU INDAH PADA WAKTUNYA
.
* Because of JESUS, we have HOPE 4 tomorrow. CONFIDENCE in the future. LIGHT in our darkness,.REST when we are weary, & LOVE

* Senyum membuat kita tampak manis, berdoa membuat kita tampah kuat, memberi membuat kita tambah kaya, kasih membuat kita mengerti arti kehidupan….

* “IMAN Kpd Yesus M’bwt smuAx M’jD mgKn
“HARAPAN Di dlm Yesus M’bwt sMuax brHsl
“KASIH” DidLm Yesus, M’bwt sMuax inDah pD aKhirx

* Saat qt meletakkan pengharapan qt pada tangan Allah, Dia meletakkan damai sejahteraNya di hati kita.

* Tuhan Tidak menjanjikan jalan Yang Mulus Bagi Kita, Tetapi ia Menjanjikan kekuatan bagi Kita.

* Waktu terus berlalu tetapi kasih setiaNya tetap tuk selama-lamanya

* Qt adlh umat yg dikuduskanNya, sehingga tdk ada pghalang bg qt utk dtg kepdNya kpnpun n dimanapn qt dapat menghampiri Allah yg Maha Kudus

* Kemajuan besar akan dialami seseorang, hanya bila mereka mau mengubah cara berpikirnya. Cara berpikir yg tidak diubah, hasil yg dicapai juga tdk berubahPuji Tuhan utk segala cinta kasihNya bagi nakda Furness. Semoga di Singapore cinta kasihNya semqakin jelas kelihatan

* Terang cahaya mentari pagi bertanda anugerah Allah bagi anak2Nya, jauh lebih besar. Semoga Anakda Furness sll dibawah bungkusan kasihNya

* Mata Tuhan tetap tertuju kepada setiap org yg dikasihiNya. Anak Furness adalah anakNya kiranya kasihNya tetap tertuju senantiasa. Amin

~ Catatan Harian 3

By : Titi Yuliaty Mangape

6 Juli 2008
Di hari Ahad ini, aku berencana beribadah di GPBB (Gereja Presbyterian Bukit Batok). Alamat lengkap sudah aku kantongi. Biasanya klo alamat sudah di tangan, pastilah dapat tiba di tujuan. Tak perlu kuatir berlebihan, tinggal memberi tahu ke sopir taksi, insya Allah diantar tiba di tujuan dengan selamat. Berbekal alamat tersebut dan mengandalkan sopir taksi, kami menyusuri Bukit Batok street. Uphss, akhirnya tiba juga, bertepatan dimulainya ibadah. (Lagi-lagi hampir telat; harap maklum orang baru).
Ibadah dipimpin oleh Pnt. Jonatan Tjhang sebagai Liturgos dan Rev. Nicky Chong dari Wycliffe Bible Translator Singapore sebagai pengkhotba . Tema yang diangkat ialah

“Bahasa:Ujung tombak misi” dari KPR 2:1-13.
Persembahan pujian Paduan Suara dari Jakarta yang akan ikut lomba di Hongkong menyemarakkan ibadah minggu ini.

7 Juli 2008
Sepekan sudah aku menggumuli soal transplantasi bagi cahaya hatiku. Hari ini kuberharap result Mr. TB agak menggembirakan, akan tetapi ternyata tak ada perkembangan yang berarti. Ureum dan kreatininnya tak jua beranjak turun. Aku pusiiiiiing. Tim dokter apalagi. Kucoba mencari informasi ke sana kemari, tetapi tak ada yang memuaskan. Kuhubungi kawan-kawan dan saudara-saudara di tanah air, siapa tahu ada yang bisa membantu. Tetapi ternyata juga tidak. Ahh… Bak di ujung tanduk. Lelah nian rasanya.

8 Juli 2008
Aku terbangun menyambut fajar baru dalam hidupku. Setitik harapan kan kugapai di usiaku yang tidak muda lagi . SMS ucapan Selamat Ulangtahun dari tanah air satu persatu kuterima. Pertama-tama datang dari sahabat belenkku, menyusul adikku, rekan kerjaku, sahabat-sahabatku dan banyak lagi. Tak terasa air mataku menitik, haru biru dan bahagia. Di tengah pergumulanku ini, masih ada yang peduli padaku. Trimakasih Tuhan, Engkau memberiku cinta kasih dan perhatianMu melalui mereka. Trimakasih semuanya.

11 Juli 2008
Result Mr. TB mulai menunjukkan sedikit perubahan meskipun tidak terlalu signifikan. Badannya yang semula “membengkak” sudah mulai “turun”. Aku boleh bernafas sedikit legah.

13 Juli 2008
Ibdah hari Minggu di GPO. Dalam rangkaian bulan misi, Pr Chandra Koewoso mengangkat tema “Injil bagi sekitar kita”, dengan pembacaan Alkitab I Petrus 5:1-4. Di depan gereja, beliau berdoa untuk kami setelah capt menyampaikan kondisi cahaya hatiku. Akhirnya, ada juga orang Indonesia yang mendoakan kami. \


14 Juli 2008
Ureum dan kreatinin, perlahan-lahan turun.

18 Juli 2008

Berat Badan cahaya hatiku sudah mulai turun mendekati angka yang diharapkan, Ureum dan kreatinin juga terus turun

20 Juli 2008
Rencana beribadah jam 09.00 pagi di GPBB akhirnya batal. Sopir taksi yang kutumpangi nyasar. Saat tiba di lokasi, ibadah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Kuputuskan pulang saja ke rumah. Hati dongkol dan kesal. Beruntung belum sempatmarah.

Ibadah yang tertunda pagi tadi, kulanjutkan di GPO dalam ibadah jam 14.30. Masih dalam rangkaian bulan Misi Juli 2oo8, tema yang diangkat Minggu ini adalah “Injil bagi bangsa kita” dari pembacaan 2 Kor 8. Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt Victor Tinumbuan.

21 Juli 2008
Singapore diguyur hujan. Cuaca yang dingin semakin membuatku menggigil ketika mengetahui bahwa result Mr. TB tidak menggembirakan. Masih terngiang-ngiang di telingaku penjelasan Prof tentang transplantasi. Baik dari segi kelebihannya maupun kekurangannya. Ada kekuatiran dalam dada ini, jangan-jangan prediksi Prof benar dan transplantasi itu harus dilakukan. Aku takut. Benar-benar takut! Bulu kudukku merinding, seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin. Membayangkannyapun aku tak sanggup.

23 Juli 2008
Singapore kembali diguyur hujan. Walaupun cuaca dingin, aku harus mengantar cahaya hatiku bertemu Mr. TB. Rencananya hari ini jika semua berjalan normal. Cahaya hatiku akan diisolasi kembali. Untuk yang ke dua kalinya ia akan diinjeksi dengan Methyl Prednisolone. Sopir taksi yang kami tumpangi kali ini sangat familiar tetapi sedikit “rada-rada”. Bagaimana tidak “rada-rada”, ketika kami bertanya soal hujan yang terus mengguyur kota. Ia nyeletuk menjawab, “ Ya…. It`s raining because Jesus is crazy.” Lho koq!? “Rada-rada” bukan?
12.00
Result Mr. TB lagi-lagi tidak menggembirakan. Setelah beberapa waktu bernjak turun, kini naik lagi. Aku panik, ttp Prof mencoba menenangkanku. Kata beliau, “Jangan berpikir negatif dulu, kita akan observasi terus langkah apa yang harus ditempuh., mudah-mudahan dalam beberapa hari bisa turun lagi.”
15.00
Masuk ruang isolasi ward 45.
16.00
Kami harus pindah dari Holland village karena rumah itu akan dihuni lagi oleh orang lain. Kutinggalkan kedua cahaya hatiku di RS, bersama dengan capt aku kembali ke Holland Village berbenah sekalian berpamitan kepada tuan rumah. Kusempatkan menanak nasi dan membuat telur dadar sebagai bekal ke RS sambil menunggu tuan rumah dating. Setelh berpamitan aku diberi cangkir 3 buah katanya siapa tahu berguna. (Tq Ross.) Kami diantar oleh Suami Ross ke Bukit Merah Central, Home stay kami yang kedua.

24 Juli 08
Capt, kembali ke Makassar. Kepanikan kembali terjadi. Pottasium dalam tubuh cahaya hatiku sangat tinggi. Para perawat sibuk mempersiapkan alat. Cahaya hatiku harus dibantu O2. Team dokter berdatangan, menunggu instruksi lebih lanjut dari Prof yang sedang rapat. Lagi-lagi aku tak tahu harus berbuat apa. Sore hari, ketika prof datang tergesa-gesa, semua sudah kembali normal.

25 Juli 2008

Wajah-wajah cerah meliputi semua orang, para perawat dan para dokter tersenyum manis. Akupun gembira, sebab result Mr. TB kali ini sangat menggembirakan. Semua normal kembali ,bahkan kreatinin dan ureumnya juga ikut turun. Dokter berpesan, besok sudah boleh pulang ke home stay.Trimakasih Tuhan


27 Juli 2008
Beribadah di GPBB. Taksi yang kami tumpangi tidak lagi nyasar. Bahkan tiba lebih awal. Ibadah gabungan dan pelayanan Perjamuan Kudus dipimpin oleh Pdt. Ayub Yahya

28 Juli 2008
Sulungku kembali ke tanah air , aku mengantarnya ke Changi dan untuk pertama kalinya aku "belajar" naik MRT

30 Juli 2008
Akhirnya ada juga orang Indonesia yang mengunjungi dan mendoakan kami sekalipun di penghujung kami tinggal di Singapore. Pertanyaan seorang sahabat dari tanah air terjawab sudah. Trimakasih kepada tim lawatan dari GPBB Pr Budianto Lim, Ibu Widya dan Ibu Veronica.
31 Juli 2008
Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidupku tatkala Prof Yap mengatakan, “Now, you can go back to your country.” Akhirnya aku boleh bernafas legah. Sekalipun setiap bulan aku harus membawanya control ke Singapore; sekalipun setiap dua minggu sekali aku harus menggantikan peran suster untuk menyuntikkan hormon ke dalam tubuhnya agar Hbnya bisa naik; sekalipun aku harus terus-menerus di sisinya memantau menu dietnya, obat-obatnya, urinenya, minumnya dan lain-lainnya; tetapi bagiku ini adalah langkah maju yang luar biasa, setelah menunggu begitu lama dalam ketidakpastian.


Fungsi ginjal cahaya hatiku yang semula hanya 10%, sekarang berangsur-angsur beranjak naik menjadi 16%. Menurut penjelasan yang aku "tangkap" bahwa fungsi ginjal cahaya hatiku akan terus beranjak naik dari waktu ke waktu . Walau prosesnya amat lama, dibutuhkan waktu kurang lebih 6 tahun, akan tetapi paling tidak ketakutan-ketakutan yang menghantuiku tentang transplantasi bagi cahaya hatiku perlahan-lahan luruh. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya menumpahkan beban berat yang selama ini menghimpitku dan meluapkan kegembiraanku. Ingin rasanya aku berlari dan meloncat-loncat kegirangan. Akh…. sungguh, aku sangat bahagia.

Mujizat itu nyata. "Agen Tunggalku" tidak tinggal diam, dinyatakanNya perkara besar dalam hidupku tetapi juga diberikanNya kekuatan, kemampuan untuk memikulnya dan ditunjukkanNya jalan yang harus kulalui. Ia belum selesai melukis hidup cahaya hatiku, IA masih bekerja hingga larut malam, dengan mencampur warna-warni, sebab IA masih mempunyai rencana indah bagi hidupnya. Kututup "buku" ini dengan sejuta asa. Asa yang akan terus kurajut bersamaNya.Kuucapkan syukurku dan trimakasihku hanya kepada Dia. Trimakasih Tuhan.

~ 'Bercermin' diri

By : Titi Yuliaty M.

Sepekan sudah aku menemani cahaya hatiku makan siang di canteen sekolahnya. Setiap hari selalu ada yang baru. Kebersamaan dan kepedulian antar teman-teman kelasnya selalu kusaksikan. Suatu kali, kala mereka sedang makan siang, ada yang bertanya: "Ai boleh nggak Maganta minum ini." (sambil memperlihatkan sebotol yakult). Dengan halus kutolak pemberianya dan kukatakan padanya kalau cahaya hatiku tidak bisa meminumnya karena menu dietnya sudah diatur. Di lain waktu seorang teman perempuannya membawakanku dedaunan, katanya:" Ini obat ginjal Ai, direbus dengan air dan air rebusannya itu diminum. Mamaku biasa minum. Kalau masih ada yang sisa bisa disimpan di kulkas. Mudah-mudahan Maganta cepat sembuh ya Ai." dengan terharu aku menerimanya sembari mengucapkan terimakasih

Kali lain, seorang kawannya nyeletuk,: "Saya kasihan sama tante, harus bolak-balik mengantar Maganta berobat, tentu tante capek ya. Saya selalu berdoa untuk kesembuhan Maganta, yang sabar ya tante." Aku terdiam mendengarnya. Kucoba menahan air mata keharuan dan kuucapkan terimakasih sambil mengusap-usap kepalanya

Setiap pola tingkah laku mereka tak luput dari pengamatanku. Aku merenungkan, bagaimana respon, empati dan simpati yang ditunjukkan kepada cahaya hatiku, seorang teman, seorang sahabat bagi mereka. Mungkin tak terucap lewat kata tetapi terpikir. Dalam hati sanubari, mereka berkata "Kami pun merasakan penderitaanmu, sahabat." Suatu kepedulian yang luar biasa. Tak ada kemunafikan, tak ada kebohongan, tak ada sinisme tak ada kecemburuan.
Dalam keluguan kanak-kanak, kepedulian dan cinta kasih mereka amatlah tulus, polos tanpa "embel-embel". Tanpa tendensi.

Aku berpikir, seandainya orang dewasa dapat bercermin diri kepada kanak-kanak seperti ini, akh, betapa indah dan damainya dunia. Kuaminkan kata Tuhanku: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga." (Matius 19:14). Kutinggalkan ruang canteen mereka, dengan sejuta asa.
*Ai adalah sapaan mereka untukku yang artinya = tante

~ Catatan harian 2

Holland village-home stay
By : Titi Yuliaty

28 Juni ‘08
Pagi ini, capt kembali ke Indonesia. Pukul 08.00 waktu setempat berangkat dari rumah. Tinggallah kami bertiga di negeri orang. tak ada kawan, tak ada saudara.

29 Juni ‘08
07.00
Hari Sabat. Aku terbangun mendengar dering telepon. Ternyata capt. Sekedar memberitahukan bahwa ia sudah di bandara Hasanuddin untuk berangkat ke tempat kerja. Aku turun ke lantai satu melakukan rutinitas harian. Kuambil sapu, kubersihkan seluruh ruangan dan kupel. Ah, akhirnya selesai juga. Sekarang aku membuat sarapan bagi kedua cahaya hatiku. Setangkup roti bakar dan sepiring nasi goreng. Yummy.
09.00
Kedua cahaya hatiku makan pagi. Sesudah minum obat, mereka menonton film kartun. Aku melanjutkan pekerjaan rumah yang lain: menyetrika dan menyiapkan makan siang.
13.00
Makan siang sudah tersaji. Sebagaimana pesanan mereka, aku menyiapkan oseng-oseng buncis, ikan sambal dan ayam goreng. Mereka makan dengan lahap. Masakanku ludes dan tandas. Senang melihat hasil karya dihargai,
14.00
Ibu Ross datang bersama suaminya untuk membersihkan rumah. Beberapa catatan-catatan kecil diberikan kepadaku
14.30
Ke gereja berbahasa Indonesia di Orchad Plaza. Sekalipun terlambat, aku menikmati,

persekutuan ini. Akhirnya aku dapat bersekutu lagi dengan sesama saudara seiman di negeri orang. Belakangan aku tahu ini adalah GPO (Gereja Presbyterian Orchad), jemaat berbahasa Indonesia


19.00 Makan malam
22.30
Rehat

30 Juni ‘08
12.15
Apoitmen dengan Prof. Cahaya hatiku sudah mulai bersahabat denga Mr. TB, terlebih karena sekarang Mr. TB ditemani oleh Ms Emla. Hari ini mereka kembali melakukan tugasnya dan cahaya hatiku menyodorkan tangannya dengan sukarela. Tak ada lagi “kekacauan”. Ah, legah rasanya.
16.00
Result dari Mr. TB tidak menggembirakan. Kreatinin dan ureumnya sangat tinggi. Dari uraian Prof. yang “berhasil” kusimak, ditambah dengan pejelasan sulungku, ternyata fungsi ginjal cahaya hatiku tinggal 10 %. Kedua ginjalnya mengalami implammation kronik. Satu-satunya solusi yang terbaik menurut Prof, jika ureum dan kreatininnya tidak beranjak turun adalah transplantasi.
Nyerih dada ini mendengarnya, tapi apa daya, aku tak tahu mau berbuat apa. Aku pulang bersama kedua cahaya hatiku tanpa banyak kata. Kucoba mengalihkan perhatian, tapi aku tak sanggup. Kuingin berbagi, tetapi aku tidak tahu kepada siapa. Tak mungkin aku menyampaikan pergumulan ini kepada capt yang baru sehari di Makasar. Terlintas dalam benakku sahabat belenkku, tetapi ah tak etis rasanya jika aku membebaninya, dikala ia asyik menikmati liburannya. Beberapa kali memang, aku mengirim berita via sms kepadanya, namun tak satupun dibalasnya. Pikirku, mungkin ia lagi tak ingin direcokin.


Malam ini, aku bergumul sendirian. Tak seorangpun mengingatku, tak seorangpun menyapaku walau via sms sekalipun. Terngiang-ngiang di telingaku kata dokter tentang transplantasi. Harapanku hanya satu, ginjalku ini akan kuberikan padanya, andai mungkin. Berat sekali, sesak rasanya .

Kutatap kedua cahaya hatiku dalam kelelapan mereka. Kutumpahkan semua airmataku. Aku merintih dalam kepedihan. Melalui doa kuberseru kepadaNya: "Tuhanku tolonglah aku yang lemah ini. Jikalau transplantasi, adalah jalan terbaik menurutMu, jadikan aku siap berbagi ginjal dengannya. Beri kekuatan kepadaku dalam menjalani padang gurun kehidupan ini. Amin."
Kututup tirai jendela kamarku, kurebahkan diriku, berharap esok hari, kala aku menikmati aurima pagi, ada asa baru dalam hidupku.